BAB I
PENDAHULUAN
Pangan adalah kebutuhan dasar manusia. Tanpa makan
(dan minum) manusia tidak bisa
mempertahankan eksistensinya atau hidupnya. Masalah pangan di Indonesia yaitu kualitas dan nilai gizi yang
relatif masih rendah. Sehubungan dengan itu perlu dilakukan usaha peningkatan gizi pangan
masyarakat antara lain dengan penganekaragaman pola makan sehari-hari terutama dengan bahan
nabati seperti kacang tanah, kedelai, dan kacang hijau. Yaitu dalam upaya menanggulangi
krisis protein pilihan utama jatuh pada tanaman kacang-kacangan, terutama kedelai dan kacang hijau.
Tanaman kedelai (Glycine max L. Merril)
merupakan komoditi pertanian yang
diperlukan
untuk mencukupi kebutuhan gizi pangan rakyat. Hal ini disebabkan kedelai mengandung protein yang cukup
tinggi dibandingkan dengan kacang-kacangan lainnya. Menurut Richard et al., (1984)
biji kedelai mengandung 30-50% protein. Rismunandar (1978) sebelumnya mengemukakan,
kadar protein kacang tanah 20%, beras dan jagung masing-masing
10%. Kandungan protein yang tinggi memberikan indikasi bahwa tanaman kedelai memerlukan nitrogen yang
tinggi pula.
Jagad Indonesia ini memungkinkan dikembangkan tanaman sayur-sayuran yang
banyak bermanfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan bagi manusia. Sehingga
ditinjau dari aspek klimatologis Indonesia sangat tepat untuk dikembangkan
untuk bisnis sayuran. Di antara
tanaman sayur-sayuran yang mudah dibudidayakan adalah caisim. Karena caisin ini sangat
mudah dikembangkan dan banyak kalangan yang menyukai dan memanfaatkannya. Selain
itu juga sangat potensial untuk komersial dan prospek sangat baik..
Ditinjau dari aspek klimatologis, aspek teknis, aspek ekonomis dan aspek
sosialnya sangat mendukung, sehingga memiliki kelayakan untuk diusahakan di
Indonesia.Sebutan sawi orang asing adalah mustard. Perdagangan internasional
dengan sebutan green mustard, chinese mustard, indian mustard ataupun sarepta
mustard. Orang Jawa, Madura menyebutnya dengan sawi, sedang orang Sunda
menyebut sasawi.
Caisin umumnya diperbanyak secara generatif, yakni
dengan biji-bijinya. Benih
caisin sebaiknya di semai terlebih dahulu selama ± satu bulan atau berdaun 4 -5 helai (Rukmana R.199).
BAB II
DASAR TEORI
A. Budidaya
Caisin
Caisim (Brassica juncea L.) merupakan tanaman
sayuran dengan iklim sub-tropis,
namun mampu beradaptasi dengan baik pada iklim tropis. Caisim pada umumnya banyak ditanam dataran
rendah, namun dapat pula didataran
tinggi.
Caisim tergolong tanaman yang toleran terhadap suhu tinggi (panas). Saat ini, kebutuhan akan caisim
semakin lama semakin meningkat seiring
dengan
peningkatan populasi manusia dan manfaat mengkonsumsi bagi kesehatan. Rukmana (1994)
menyatakan caisim mempunyai nilai ekonomi
tinggi
setelah kubis crop, kubis bunga dan brokoli.
Sebagai sayuran, caisim atau dikenal dengan sawi
hijau mengandung berbagai
khasiat bagi kesehatan. Kandungan yang terdapat pada caisim adalah protein, lemak, karbohidrat, Ca, P,
Fe, Vitamin A, Vitamin B, dan Vitamin C.
Menurut
Margiyanto (2008) manfaat caisim atau sawi bakso sangat baik untuk menghilangkan rasa gatal di
tenggorokan pada penderita batuk, penyembuh
sakit
kepala, bahan pembersih darah, memperbaiki fungsi ginjal, serta memperbaiki dan memperlancar
pencernaan. Daun B. juncea berkhasiat untuk peluruh air seni, akarnya
berkhasiat sebagai obat batuk, obat nyeri pada tenggorokan
dan peluruh air susu, bijinya berkhasiat sebagai obat sakit kepala (Anonim, 2008a).
Caisim (Brassica juncea L.)
merupakan tanaman semusim, berbatang pendek hingga hampir tidak terlihat. Daun Caisim berbentuk bulat
panjang serta
berbulu halus dan tajam, urat daun utama lebar dan berwarna putih. Daun caisim
ketika masak bersifat lunak, sedangkan yang mentah rasanya agak pedas.
Pola pertumbuhan daun mirip tanaman
kubis, daun yang muncul terlebih dahulu menutup daun yang tumbuh kemudian hingga membentuk krop bulat
panjang yang berwarna putih. Susunan dan warna bunga seperti kubis (Sunarjono,
2004).
Adapun klasifikasi tanaman casim adalah sebagai
berikut :
Kingdom : Plantae
Sub-kingdom : Tracheobionta
Super-divisio : Spermatophyta
Divisio : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Sub-kelas : Dilleniidae
Ordo : Capparales
Familia : Brassicaceae
Genus : Brassica
Spesies : Brassica juncea (L.) Czern.
(Anonim, 2008b).
Di Indonesia dikenal tiga jenis sawi yaitu: sawi
putih atau sawi jabung, sawi
hijau dan sawi huma. Sawi putih (B. Juncea L. Var. Rugosa Roxb.
& Prain) memiliki batang pendek,
tegap dan daun lebar berwarna hijau tua,
tangkai
daun panjang dan bersayap melengkung ke bawah. Sawi hijau, memiliki ciri-ciri batang pendek,
daun berwarna hijau keputih-putihan, serta
rasanya
agak pahit, sedangkan sawi huma memiliki ciri batang kecil-panjang dan langsing, daun panjang-sempit
berwarna hijau keputih-putihan, serta
tangkai
daun panjang dan bersayap (Rukmana, 1994).
Caisin
(Brassica campestris L-Spp) dikenai oleh pelani dengan sebulan sawi
hijau alias sawi bakso yang paling banyak dijajakan di pasar-pasar dewasa ini.
Batangnya panjang, legap dan daunnya berwarna hijau. Daun-daun tanamannya lebar
dan bentuk pipih. Warna tangkai daun putih atau hijau muda.
Sawi (Caisin) adalah sayuran yang sangat digemari
orang. Selain enak ditumis atau diasong eaisin banyak dibutuhkan oleh pedagang
rnie bakso, mie ayam, dan capeai atau masakan china lainnya, sehingga
permintaannya dipasaran cukup tinggi.
Di antara sayuran daun, caisim merupakan komoditas
yang memiliki nilai komersial dan digemari masyarakat Indonesia. Konsumen
menggunakan daun caisim baik sebagai bahan pokok maupun sebagai pelengkap masakan tradisional
dan masakan cina. Selain sebagai bahan pangan, caisim dipercaya dapat
menghilangkan rasa gatal di tenggorokan pada penderita batuk. Caisim pun
berfungsi sebagai penyembuh sakit kepala dan mampu bekerja sebagai pembersih
darah (Haryanto et al., 2001).
Ada beberapa jenis sawi yang dibudidayakan
diantaranya adalah :
a.
Sawi pulih merupakan jenis yang paling
banyak dikonsumsi sebagai sayuran segar, karena memiliki rasa yang paling enak
d i antara jenis sawi lainnya, jenis mi dapat hidup dilahan kering.
b.
Sawi hijau atau sawi asin, batangnya
panjang tetapi tegap dan banyak dibudidayakan dilahan kering tetapi cukup
pengairannya.
c.
Sawi huma. mempunyai daun sempit,
panjang dan berwarna hijau keputihan. Jenis tumbuh baik jika ditanam ditempai
kering, seperti tegalan dan huma.
d.
Sawi keriting, ciri sawi ini yakni
daunnya keriting dan amat mirip dengan sawi hijau, dapat hidupdilahan kering
dengan pengairan yang cukup.
e.
Sawi monumen, tumbuhnya amat tegak dan
berdaun kompak, daunnya berwarna hijau segar dan tangkai daun berwarna putih.
Sekilas penampilan sawi ini seperti petsai dan tergolong terbesar dan terberat
diantara jenis sawi lainnya.
Sistem perakaran tanaman sawi memiliki akar tunggang (radix primaria) dan
cabang-cabang akar yang bentuknya bulat panjang (silindris) menyebar kesemua
arah dengan kedalaman antara 30-50 cm. Akar-akar ini berfungsi antara lain
mengisap air dan zat makanan dari dalam tanah, serta menguatkan berdirinya
batang tanaman (Heru dan Yovita, 2003)
Batang tanaman sawi pendek sekali dan beruas-ruas sehingga hampir tidak
kelihatan. Batang ini berfungsi sebagai alat pembentuk dan penopang daun.
Batang sawi memiliki ukuran yang lebih langsing dari tanaman petsai
(Anonimous.2005)
Daun sawi stukturnya bersayap dan bertangkai panjang yang bentuknya pipih.
Warna daun pada umumnya hijau keputihan sampai hijau tua. (Novizan.2007)
Tanaman sawi umumnya mudah berbunga dan berbiji secara alami baik didataran
tinggi maupun di dataran rendah. Stuktur bunga sawi tersusun dalam tangkai
bunga (inflorescentia) yang tumbuh memanjang (tinggi) dan bercabang banyak.
Tiap kuntum bunga sawi terdiri atas empat helai daun kelopak, empat helai daun
mahkota bunga berwarna kuning cerah, empat helai benang sari dan satu buah
putik yang berongga dua. (Cahyono.2003).
Sawi bukan tanaman asli Indonesia, menurut asalnya di Asia. Karena
Indonesia mempunyai kecocokan terhadap iklim, cuaca dan tanahnya sehingga
dikembangkan di Indonesia ini.
Tanaman sawi dapat tumbuh baik di tempat yang berhawa panas maupun berhawa
dingin, sehingga dapat diusahakan dari dataran rendah maupun dataran tinggi. Meskipun
demikian pada kenyataannya hasil yang diperoleh lebih baik di dataran tinggi. Daerah
penanaman yang cocok adalah mulai dari ketinggian 5 meter sampai dengan 1.200
meter di atas permukaan laut. Namun
biasanya dibudidayakan pada daerah yang mempunyai ketinggian 100 meter sampai
500 meter dpl.
Tanaman sawi tahan terhadap air hujan, sehingga dapat di tanam sepanjang tahun. Pada musim kemarau yang perlu diperhatikan adalah penyiraman secara teratur.
Tanaman sawi tahan terhadap air hujan, sehingga dapat di tanam sepanjang tahun. Pada musim kemarau yang perlu diperhatikan adalah penyiraman secara teratur.
Berhubung dalam pertumbuhannya tanaman ini membutuhkan hawa yang sejuk.
lebih cepat tumbuh apabila ditanam dalam suasana lembab. Akan tetapi tanaman
ini juga tidak senang pada air yang menggenang. Dengan demikian, tanaman ini
cocok bils di tanam pada akhir musim penghujan. Tanah yang
cocok untuk ditanami sawi adalah tanah gembur, banyak mengandung humus, subur,
serta pembuangan airnya baik. Derajat kemasaman (pH) tanah yang optimum untuk
pertumbuhannya adalah antara pH 6 sampai pH 7.
B. Budidaya
Kedelai
Kedelai yang tumbuh secara liar di Asia Tenggara
meliputi sekitar 40 jenis. Penyebaran geografis dari kedelai mempengaruhi jenis
tipenya. Terdapat 4 tipe kedelai yakni : tipe Mansyuria, Jepang, India, dan
Cina. Dasar-dasar penentuan varietas kedelai adalah menurut: umur, warna biji
dan tipe batang. Varietas kedelai yang dianjurkan yaitu: Otan, No. 27,
No.29, Ringgit 317, Sumbing 452, Merapi 520, Shakti 945, Davros, Economic
Garden, Taichung 1290, TKG 1291, Clark 1293, Orba 1343, Galunggung, Lokon,
Guntur, Wilis, Dempo, Kerinci, Raung, Merbabu, Muria dan Tidar.
Di salah satu negara bagian Amerika Serikat,
terdapat areal pertumbuhan kedelai yang sangat luas sehingga menghasilkan 57%
produksi kedelai dunia. Di Indonesia,
saat ini kedelai banyak ditanam di dataran rendah yang tidak banyak mengandung
air, seperti di pesisir Utara Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi
Utara (Gorontalo), Lampung, Sumatera Selatan dan Bali. Kedelai (Glycine max
(L) merrill) merupakan salah satu tanaman budidaya dengan kandungan nutrisi
yang tinggi, diantaranya mengandung protein 30-50% (Richard et al.,
1984). Kandungan protein yang tinggi memberi indikasi bahwa tanaman kedelai
memerlukan hara nitrogen yang tinggi pula. Di Indonesia sampai saat ini
produksi kedelai belum dapat memenuhi kebutuhan konsumen dalam negeri.
I. Asal Usul Dan Taksonomi Kedelai
Kedelai
merupakan tanaman asli Daratan Cina dan telah dibudidayakan
oleh manusia sejak 2500 SM. Sejalan dengan makin berkembangnya perdagangan antar negara yang terjadi pada awal abad ke-17, menyebabkan tanaman kedalai juga
ikut tersebar ke berbagai negara
tujuan perdagangan tersebut, yaitu Jepang, Korea, Indonesia, India, Australia, dan Amerika.
Kedelai mulai dikenal di Indonesia sejak
abad
ke-16. Awal mula penyebaran dan pembudidayaan kedelai yaitu di Pulau Jawa, kemudian berkembang ke
Bali, Nusa Tenggara, dan pulaupulau
lainnya.
Pada
awalnya, kedelai dikenal dengan beberapa nama botani, yaitu Glycine soja dan
Soja max. Namun pada tahun 1948 telah disepakati bahwa nama botani yang dapat
diterima dalam istilah ilmiah, yaitu Glycine max (L.) Merill. Klasifikasi tanaman kedelai
sebagai berikut :
Divisio : Spermatophyta
Classis :
Dicotyledoneae
Ordo : Rosales
Familia : Papilionaceae
Genus : Glycine
Species : Glycine
max (L.) Merill
II.
Morfologi Tanaman Kedelai
Tanaman kedelai umumnya tumbuh tegak,
berbentuk semak, dan merupakan
tanaman semusim. Morfologi tanaman kedelai didukung oleh komponen utamanya, yaitu akar,
daun, batang, polong, dan biji sehingga
pertumbuhannya
bisa optimal.
1.
Akar
Akar kedelai mulai muncul dari belahan
kulit biji yang muncul di sekitar
misofil.
Calon akar tersebut kemudian tumbuh dengan cepat ke dalam tanah, sedangkan kotiledon yang
terdiri dari dua keping akan terangkat ke
permukaan
tanah akibat pertumbuhan yang cepat dari hipokotil. Sistem perakaran kedelai terdiri
dari dua macam, yaitu akar tunggang
dan
akar sekunder (serabut) yang tumbuh dari akar tunggang. Selain itu kedelai juga seringkali membentuk
akar adventif yang tumbuh dari bagian
bawah
hipokotil.
Pada umumnya, akar adventif terjadi
karena cekaman tertentu,
misalnya kadar air tanah yang terlalu tinggi. Perkembangan
akar kedelai sangat dipengaruhi oleh kondisi fisik dan kimia tanah, jenis tanah, cara
pengolahan lahan, kecukupan unsur hara,
serta
ketersediaan air di dalam tanah.
Pertumbuhan akar tunggang dapat mencapai
panjang sekitar 2 m atau lebih pada kondisi yang optimal, namun demikian, umumnya akar
tunggang hanya tumbuh padakedalaman lapisan tanah olahan yang tidak terlalu
dalam, sekitar 30-50 cm.
Sementara akar serabut dapat tumbuh pada kedalaman tanah sekitar 20-30 cm. Akar serabut ini
mula-mula tumbuh di dekat ujung akar
tunggang,
sekitar 3-4 hari setelah berkecambah dan akan semakin bertambah banyak dengan pembentukan
akar-akar muda yang lain.
Akar tanaman kedelai
terdiri atas akar tunggang, akar lateral, dan akar serabut. Pada tanah yang
gembur, akar ini dapat menembus tanah sampai kedalaman 1,5 m. Pada akar lateral
terdapat bintil-bintil akar yang merupakan kumpulan bakteri rhizobium pengikat
N dari udara. Bintil akar ini biasanya akan terbentuk 15-20 hari setelah tanam,
selain sebagai penyerap unsur hara dan penyangga tanaman, pada perakaran
merupakan tempat terbentuknya bintil/nodul akar yang berfungsi sebagai pabrik
alami terfiksasinya nitrogen udara oleh aktivitas bakteri Rhizobium (Tambas
dan Rakhman, 1986).
2.
Batang dan Cabang
Hipokotil pada proses perkecambahan
merupakan bagian batang, mulai
dari pangkal akar sampai kotiledon. Hopikotil dan dua keping kotiledon yang masih melekat pada
hipokotil akan menerobos ke permukaan
tanah. Bagian batang kecambah yang berada diatas kotiledon tersebut dinamakan epikotil.
Pertumbuhan batang kedelai dibedakan
menjadi dua tipe, yaitu tipe determinate
dan indeterminate. Perbedaan sistem pertumbuhan batang ini didasarkan atas keberadaan bunga
pada pucuk batang. Pertumbuhan batang
tipe determinate ditunjukkan dengan batang yang tidak tumbuh lagi pada saat tanaman mulai
berbunga.
Sementara pertumbuhan batang tipe indeterminate dicirikan bila
pucuk batang tanaman masih bisa tumbuh
daun,
walaupun tanaman sudah mulai berbunga. Disamping itu, ada varietas hasil persilangan yang
mempunyai tipe batang mirip keduanya
sehingga
dikategorikan sebagai semi-determinate atau semiindeterminate. Jumlah buku pada batang tanaman
dipengaruhi oleh tipe tumbuh
nbatang
dan periode panjang penyinaran pada siang hari. Pada kondisi normal, jumlah buku berkisar 15-30
buah. Jumlah buku batang indeterminate
umumnya lebih banyak dibandingkan batang determinate. Cabang akan muncul di batang
tanaman. Jumlah cabang tergantung
dari
varietas dan kondisi tanah, tetapi ada juga varietas kedelai yang tidak bercabang. Jumlah batang bisa
menjadi sedikit bila penanaman dirapatkan
dari 250.000 tanaman/hektar menjadi 500.000 tanaman/hektar. Jumlah batang tidak mempunyai
hubungan yang signifikan dengan jumlah
biji yang diproduksi. Artinya, walaupun
jumlah cabang banyak, belum tentu
produksi kedelai juga banyak.
Kedelai berbatang semak, dengan tinggi batang
antara 30-100 cm. setiap batang dapat membentuk 3-6 cabang. Pertumbuhan batang
dibedakan menjadi dua tipe, yaitu tipe determinate dan indeterminate.
Perbedaan sistem pertumbuhan batang ini didasarkan atas keberadaan bunga dan
pucuk batang. Pertumbuhan batang tipe determinate ditunjukkan dengan
batang yang tidak tumbuh lagi pada saat tanaman mulai berbunga. Pertumbuhan
batang tipe indeterminate dicirikan
bila
pucuk batang tanaman masih bisa tumbuh daun, walaupun tanaman sudah mulai
berbunga. Begitu juga dengan bentuk daun kedelai ada dua macam, yaitu bulat
(oval) dan lancip (lanceolate) (Adisarwanto, 2005).
3.
Daun
Tanaman kedelai mempunyai dua bentuk
daun yang dominan, yaitu
stadia kotiledon yang tumbuh saat
tanaman masih berbentuk kecambah
dengan
dua helai daun tunggal dan daun bertangkai tiga (trifoliate leaves) yang tumbuh selepas masa
pertumbuhan. Umumnya,
bentuk daun kedelai ada dua, yaitu bulat (oval) dan lancip (lanceolate). Kedua bentuk daun
tersebut dipengaruhi oleh faktor genetik.
Bentuk
daun diperkirakan mempunyai korelasi yang sangat erat dengan potensi produksi biji. Umumnya,
daerah yang mempunyai tingkat kesuburan
tanah tinggi sangat cocok untuk varietas kedelai yang mempunyai bentuk daun lebar. Daun
mempunyai stomata, berjumlah antara
190-320 buah/m2. Umumnya,
daun mempunyai bulu dengan warna cerah dan jumlahnya bervariasi. Panjang bulu bisa
mencapai 1 mm dan lebar 0,0025 mm.
Kepadatan
bulu bervariasi, tergantung varietas, tetapi biasanya antara 3- 20 buah/mm2. Jumlah bulu pada
varietas berbulu lebat, dapat mencapai 3-
4
kali lipat dari varietas yang berbulu normal. Contoh varietas yang berbulu lebat yaitu IAC 100,
sedangkan varietas yang berbulu jarang yaitu
Wilis,
Dieng, Anjasmoro, dan Mahameru. Lebat-tipisnya
bulu pada daun kedelai berkait dengan tingkat toleransi varietas kedelai terhadap serangan
jenis hama tertentu. Hama penggerek
polong
ternyata sangat jarang menyerang varietas kedelai yang berbulu lebat. Oleh karena itu, para
peneliti pemulia tanaman kedelai cenderung
menekankan
pada pembentukan varietas yang tahan hama harus mempunyai
bulu di daun, polong, maupun batang tanaman kedelai.
4. Bunga
Tanaman kacang-kacangan, termasuk
tanaman kedelai, mempunyai dua
stadia tumbuh, yaitu stadia vegetatif dan stadia reproduktif. Stadia vegetatif mulai dari tanaman
berkecambah sampai saat berbunga,
sedangkan
stadia reproduktif mulai dari pembentukan bunga sampai pemasakan biji.
Tanaman kedelai di Indonesia yang
mempunyai panjang hari
rata-rata sekitar 12 jam dan suhu udara yang tinggi (>30° C), sebagian besar mulai berbunga pada
umur antara 5-7 minggu. Tanaman kedelai
termasuk peka terhadap perbedaan panjang hari, khususnya saat pembentukan bunga. Bunga kedelai menyerupai kupu-kupu. Tangkai bunga umumnya tumbuh dari
ketiak tangkai daun yang diberi nama
rasim. Jumlah bunga pada setiap ketiak tangkai daun sangat beragam, antara 2-25 bunga,
tergantung kondisi lingkungan tumbuh dan
varietas
kedelai. Bunga pertama yang terbentuk umumnya pada buku kelima, keenam, atau pada buku yang
lebih tinggi.
Pembentukan bunga juga dipengaruhi oleh
suhu dan kelembaban. Pada
suhu tinggi dan kelembaban rendah, jumlah sinar matahari yang jatuh pada ketiak tangkai daun
lebih banyak. Hal ini akan merangsang
pembentukan
bunga.
Setiap ketiak tangkai daun yang
mempunyai kuncup bunga dan dapat
berkembang
menjadi polong disebut sebagai buku subur. Tidak setiap kuncup bunga dapat tumbuh menjadi
polong, hanya berkisar 20-80%. Jumlah
bunga yang rontok tidak dapat membentuk polong yang cukup besar. Rontoknya bunga ini dapat terjadi
pada setiap posisi buku pada 1- 10
hari setelah mulai terbentuk bunga.
Periode berbunga pada tanaman kedelai
cukup lama yaitu 3-5 minggu untuk
daerah subtropik dan 2-3 minggu di daerah tropik, seperti di Indonesia. Jumlah bunga pada tipe
batang determinate umumnya lebih
sedikit
dibandingkan pada batang tipe indeterminate. Warna bunga yang umum pada berbagai varietas kedelai
hanya dua, yaitu putih dan ungu.
Bunga kedelai termasuk bunga sempurna,
artinya dalam setiap bunga terdapat alat kelamin jantan dan alat kelamin
betina. Penyerbukan terjadi pada saat mahkota bunga masih menutup, sehingga
kemungkinan terjadinya kawin silang secara alami sangat kecil. Bunga terletak
pada ruas-ruas batang, berwarna ungu atau putih. Tidak semua bunga dapat
menjadi polong walaupun telah terjadi penyerbukan secara sempurna (Suprapto,
2001).
5.
Polong dan biji
Polong kedelai pertama kali terbentuk
sekitar 7-10 hari setelah munculnya
bunga pertama. Panjang polong muda sekitar 1 cm. Jumlah polong yang terbentuk pada setiap ketiak
tangkai daun sangat beragam, antara
1-10 buah dalam setiap kelompok. Pada setiap tanaman, jumlah polong dapat mencapai lebih dari
50, bahkan ratusan. Kecepatan pembentukan
polong dan pembesaran biji akan semakin cepat setelah proses pembentukan bunga berhenti.
Ukuran dan bentuk polong menjadi
maksimal
pada saat awal periode pemasakan biji. Hal ini kemudian diikuti oleh perubahan warna polong, dari
hijau menjadi kuning kecoklatan pada
saat
masak.
Di dalam polong terdapat biji yang
berjumlah 2-3 biji. Setiap biji kedelai
mempunyai
ukuran bervariasi, mulai dari kecil (sekitar 7-9 g/100 biji), sedang (10-13 g/100 biji), dan
besar (>13 g/100 biji). Bentuk biji bervariasi, tergantung pada varietas tanaman,
yaitu bulat, agak gepeng, dan bulat
telur.
Namun demikian, sebagian besar biji berbentuk bulat telur. Biji kedelai terbagi menjadi dua
bagian utama, yaitu kulit biji dan janin
(embrio).
Warna kulit biji bervariasi, mulai dari
kuning, hijau, coklat, hitam, atau
kombinasi
campuran dari warna-warna tersebut.
Biji
kedelai tidak mengalami masa dormansi sehingga setelah proses pembijian selesai, biji kedelai
dapat langsung ditanam. Namun demikian,
biji
tersebut harus mempunyai kadar air berkisar 12-13%.
6. Bintil
akar dan Fiksasi Nitrogen
Tanaman kedelai dapat mengikat nitrogen
(N2) di atmosfer melalui aktivitas
bekteri pengikat nitrogen, yaitu Rhizobium japonicum. Bakteri ini terbentuk di dalam akar tanaman
yang diberi nama nodul atau bintil akar.
Keberadaan
Rhizobium japonicum di dalam tanah memang sudah ada karena tanah tersebut ditanami
kedelai atau memang sengaja ditambahkan
ke dalam tanah. Nodul atau bintil akar tanaman kedelai umumnya dapat mengikat nitrogen
dari udara pada umur 10 – 12 hari
setelah
tanam, tergantung kondisi lingkungan tanah dan suhu. Kelembaban tanah yang cukup dan
suhu tanah sekitar 25°C sangat mendukung
pertumbuhan bintil akar tersebut.
Perbedaan warna hijau daun pada awal pertumbuhan (10 – 15
hst) merupakan indikasi efektivitas
Rhizobium
japonicum. Namun demikian, proses pembentukan bintil akar sebenarnya sudah terjadi mulai umur
4 – 5 hst, yaitu sejak terbentuknya
akar
tanaman. Pada saat itu, terjadi infeksi pada akar rambut yang merupakan titik awal dari proses
pembentukan bintil akar. Oleh karena itu,
semakin
banyak volume akar yang terbentuk, semakin besar pula kemungkinan jumlah bintil akar atau
nodul yang terjadi. Kemampuan
memfikasi N2 ini akan bertambah seiring dengan bertambahnya
umur tanaman, tetapi maksimal hanya sampai akhir masa berbunga atau mulai pembentukan
biji. Setelah masa pembentukan biji,
kemampuan
bintil akar memfikasi N2 akan menurun bersamaan dengan semakin banyaknya bintil akar yang
tua dan luruh. Di samping itu, juga
diduga
karena kompetisi fotosintesis antara proses pembentukan biji dengan aktivitas bintil akar. Ada beberapa faktor yang
mempengaruhi efektivitas inokulasi. Oleh
karena
inokulan berisi organisme hidup maka harus terlindung dari pengaruh sinar matahari langsung,
suhu tinggi, dan kondisi kering karena
dapat
menurunkan populasi bakteri dalam media inokulan sebelum diaplikasikan. Bila perlu, inokulan
dapat disimpan dalam lemari es pada
suhu
4°C sebelum digunakan. Inokulan yang baik akan berisi sebanyak 105 – 107 sel/gr bahan pembawa.
Pada waktu aplikasi bakteri Rhizobium japonicum ini,
tidak diberikan bersamaan dengan fungisida karena fungisida
banyak mengandung logam berat yang dapat mematikan bakteri. Sementara penggunaan
herbisida tidak banyak pengaruhnya
terhadap
jumlah dan aktivitas bakteri ini.
Ada beberapa metode aplikasi bakteri,
yaitu pelapisan biji (slurry
method),
metode sprinkle, metode tepung (powder method), dan metode inokulasi tanah. Inokulasi biji
dengan bakteri Rhizobium japonicum
umumnya
paling sering dilakukan di Indonesia, yaitu dengan takaran 5 – 8 g/kg benih kedelai. Mula-mula biji
kedelai dibasahi dengan air secukupnya,
kemudian diberi bubukan bakteri Rhizobium japonicum sehingga bakteri tersebut dapat
menempel di biji. Bakteri tersebut
kemudian
dapat melakukan infeksi pada akar sehingga terbentuk nodul atau bintil akar. Bahan pembawa
bakteri pada inokulasi biji ini umumnya
berupa
humus (peat).
Tanaman kedelai dikenal sebagai sumber
protein nabati yang murah karena
kadar protein dalam biji kedelai lebih dari 40%. Semakin besar kadar protein dalam biji, akan
semakin banyak pula kebutuhan nitrogen
sebagai
bahan utama protein. Dilaporkan bahwa untuk memperoleh hasil biji 2,50 ton/ha, diperlukan
nitrogen sekitar 200 kg/ha. Dari jumlah
tersebut,
sekitar 120 – 130 kg nitrogen dipenuhi dari kegiatan fiksasi nitrogen.
Pemupukan nitrogen sebagai starter pada
awal pertumbuhan kedelai perlu
dilakukan untuk pertumbuhan dalam 1 minggu pertama. Pada keadaan tersebut, akar tanaman
belum berfungsi sehingga tambahan
nitrogen
diharapkan dapat merangsang pembentukan akar. Hal ini akan membuka kesempatan pembetukan
bintil akar. Selain itu, sistem perkecambahan
kedelai berupa epigeal sehingga persediaan makanan di dalam kotiledon lebih banyak
digunakan untuk pertumbuhan awal
vegetatif
dan seringkali nitrogen yang dibutuhkan tidak tercukupi. Namun demikian, bila penggunaan pupuk
nitrogen terlalu banyak, akan menekan
jumlah
dan ukuran bintil akar sehingga akan mengurangi efektivitas pengikatan N2 dari atmosfer.
III. Stadia Pertumbuhan Kedelai
Pengetahuan tentang stadia pertumbuhan
tanaman kedelai sangat penting,
terutama bagi para pengguna aspek produksi kedelai. Hal ini terkait dengan jenis keputusan yang
akan diambil untuk memperoleh pertumbuhan
yang optimal dengan tingkat produksi yang maksimal dari tanaman kedelai, misalnya waktu
pemupukan, penyiangan, pengendalian
hama
dan penyakit, serta penentuan waktu panen.
1.
Stadia pertumbuhan vegetatif
Stadia pertumbuhan vegetatif dihitung
sejak tanaman mulai muncul kepermukaan
tanah sampai saat mulai berbunga. Stadia perkecambahan dicirikan dengan adanya kotiledon,
sedangkan penandaan stadia pertumbuhan
vegetatif dihitung dari jumlah buku yang terbentuk pada batang utama. Stadia vegetatif
umumnya dimulai pada buku ketiga.
2. Stadia
pertumbuhan reproduktif
Stadia pertumbuhan reproduktif
(generatif) dihitung sejak tanaman
kedelai
mulai berbunga sampai pembentukan polong, perkembangan biji, dan pemasakan biji.
IV. Lingkungan Tumbuh
Tanah dan iklim merupakan dua komponen
lingkungan tumbuh yang
berpengaruh pada pertumbuhan tanaman kedelai. Pertumbuhan kedelai tidak bisa optimal bila
tumbuh pada lingkungan dengan salah satu
komponen
lingkungan tumbuh optimal. Hal ini dikarenakan kedua komponen ini harus saling mendukung
satu sama lain sehingga pertumbuhan
kedelai bisa optimal.
1.
Tanah
Tanaman
kedelai sebenarnya dapat tumbuh di semua jenis tanah, namun demikian, untuk mencapai
tingkat pertumbuhan dan produktivitas
yang
optimal, kedelai harus ditanam pada jenis tanah berstruktur lempung berpasir atau liat berpasir. Hal
ini tidak hanya terkait dengan ketersediaan
air
untuk mendukung pertumbuhan, tetapi juga terkait dengan faktor lingkungan tumbuh yang lain.
Faktor
lain yang mempengaruhi keberhasilan pertanaman kedelai yaitu kedalaman olah tanah yang merupakan
media pendukung pertumbuhan akar.
Artinya, semakin dalam olah tanahnya maka akan tersedia ruang untuk pertumbuhan akar yang lebih
bebas sehingga akar tunggang yang
terbentuk
semakin kokoh dan dalam. Pada jenis tanah yang bertekstur remah dengan kedalaman olah lebih
dari 50 cm, akar tanaman kedelai
dapat
tumbuh mencapai kedalaman 5 m. Sementara pada jenis tanah dengan kadar liat yang tinggi,
pertumbuhan akar hanya mencapai kedalaman
sekitar 3 m.
Upaya
program pengembangan kedelai bisa dilakukan dengan penanaman di lahan kering masam
dengan pH tanah 4,5 – 5,5 yang sebenarnya
termasuk kondisi lahan kategori kurang sesuai. Untuk mengatasi berbagai kendala,
khususnya kekurangan unsur hara di tanah
tersebut,
tentunya akan menaikkan biaya produksi sehingga harus dikompensasi dengan pencapaian
produktivitas yang tinggi (> 2,0 ton/ha).
2. Iklim
Untuk mencapai pertumbuhan tanaman yang
optimal, tanaman kedelai memerlukan
kondisi lingkungan tumbuh yang optimal pula. Tanaman kedelai sangat peka terhadap
perubahan faktor lingkungan tumbuh,
khususnya
tanah dan iklim. Kebutuhan air sangat tergantung pada pola curah hujan yang turun selama
pertumbuhan, pengelolaan tanaman, serta
umur
varietas yang ditanam.
a.
Suhu
Tanaman kedelai dapat tumbuh pada
kondisi suhu yang beragam.
Suhu tanah yang optimal dalam proses
perkecambahan
yaitu 30°C. Bila tumbuh pada suhu tanah yang
rendah
(<15°C), proses perkecambahan menjadi sangat lambat, bisa mencapai 2 minggu. Hal ini
dikarenakan perkecambahan biji
tertekan pada kondisi kelembaban tanah tinggi. Sementara pada suhu tinggi (>30°C), banyak
biji yang mati akibat respirasi air
dari dalam biji yang terlalu cepat.
Disamping suhu tanah, suhu lingkungan
juga berpengaruh terhadap
perkembangan tanaman kedelai. Bila suhu lingkungan sekitar 40°C pada masa tanaman
berbunga, bunga tersebut akan
rontok sehingga jumlah polong dan biji kedelai yang terbentuk juga menjadi berkurang.
Suhu yang terlalu rendah (10°C),
seperti pada daerah subtropik, dapat menghambat proses
pembungaan dan pembentukan polong kedelai. Suhu lingkungan
optimal untuk pembungaan bunga yaitu 24 -25°C.
b.
Panjang hari (photoperiode)
Tanaman kedelai sangat peka terhadap
perubahan panjang hari atau
lama penyinaran sinar matahari karena kedelai termasuktanaman “hari pendek”.
Artinya, tanaman kedelai tidak akan
berbunga
bila panjang hari melebihi batas kritis, yaitu 15 jam perhari. Oleh karena itu, bila
varietas yang berproduksi tinggi
dari
daerah subtropik dengan panjang hari 14 – 16 jam ditanam di daerah tropik dengan rata-rata
panjang hari 12 jam maka varietas
tersebut akan mengalami penurunan produksi karena masa
bunganya menjadi pendek, yaitu dari umur 50 – 60 hari menjadi 35 – 40 hari setelah tanam.
Selain itu, batang tanaman pun
menjadi lebih pendek dengan ukuran buku subur juga lebih pendek.
Perbedaan di atas tidak hanya terjadi
pada pertanaman kedelai yang
ditanam di daerah tropik dan subtropik, tetapi juga terjadi pada tanaman kedelai yang ditanam
di dataran rendah (<20 m dpl)
dan dataran tinggi (>1000 m dpl). Umur berbunga pada tanaman kedelai yang ditanam di
daerah dataran tinggi mundur.
sekitar
2-3 hari dibandingkan tanaman kedelai yang ditanam di datarn rendah.
Kedelai yang ditanam di bawah naungan
tanaman tahunan, seperti
kelapa, jati, dan mangga, akan mendapatkan sinar matahari
yang lebih sedikit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
naungan yang tidak melebihi 30% tidak banyak
berpengaruh
negatif terhadap penerimaan sinar matahari oleh tanaman
kedelai.
c. Distribusi
curah hujan
Hal yang terpenting pada aspek
distribusi curah hujan yaitu jumlahnya
merata sehingga kebutuhan air pada tanaman
kedelai
dapat terpenuhi. Jumlah air yang digunakan oleh tanaman
kedelai tergantung pada kondisi iklim, sistem pengelolaan
tanaman, dan lama periode tumbuh. Namun
demikian,
pada umumnya kebutuhan air pada tanaman kedelai berkisar
350 – 450 mm selama masa pertumbuhan kedelai.
Pada saat perkecambahan, faktor air
menjadi sangat penting karena
akan berpengaruh pada proses pertumbuhan.
Kebutuhan
air semakin bertambah seiring dengan
bertambahnya
umur tanaman.Kebutuhan air paling tinggi terjadi pada
saat masa berbunga dan pengisian polong. Kondisi kekeringan
menjadi sangat kritis pada saat tanaman kedelai berada
pada stadia perkecambahan dan pembentukan polong. Untuk
mencegah terjadinya kekeringan pada tanaman kedelai, khususnya pada stadia berbunga dan
pembentukan polong, dilakukan
dengan waktu tanam yang tepat, yaitu saat
kelembaban
tanah sudah memadai untuk perkecambahan.
Selain itu, juga harus didasarkan pada
pola distribusi curah hujan
yang terjadi di daerah tersebut. Tanaman kedelai sebenarnya
cukup toleran terhadap cekaman kekeringan karena dapat
bertahan dan berproduksi bila kondisi cekaman kekeringan
maksimal 50% dari kapasitas lapang atau kondisi tanah
yang optimal.
Selama masa stadia pemasakan biji,
tanaman kedelai memerlukan
kondisi lingkungan yang kering agar diperoleh kualitas
biji yang baik. Kondisi lingkungan yang kering akan mendorong proses pemasakan biji
lebih cepat dan bentuk biji yang
seragam.
BAB III
TUJUAN
Tujuan
praktikum ini adalah:
ü
Mahasiswa dapat mempraktekkan
persiapan media tanam, baik untuk tanaman
Caisin dan Kedelai.
ü
Mahasiswa dapat mempraktekkan
Persemaian pada biji Caisin.
ü
Mahasiswa dapat mempraktekkan
penanaman tanaman Caisin dan
Kedelai.
BAB IV
ALAT DAN BAHAN
Alat
dan bahan yang digunakan untuk praktikum adalah sebagai berikut:
ü
Benih
Kedelai
ü
Benih
caisin
ü
Polybag
25 kg
ü
Pupuk
Kandang
ü
Cangkul
ü
Gembor
BAB V
CARA KERJA
1.
Mempersiapkan
alat dan bahan yang akan digunakan untuk melakukan kegiatan budidaya tanaman
kedelai.
2.
Mengolah
tanah dan mencampurkan pupuk kandang dengan perbandingan 2 : 1. Kemudian
memasukan tanah yang telah di campur dengan pupuk kandang ke dalam polybag yang
berukuran 25 kg.
3.
Membuat
tempat persemaian dengan menggunakan seed box.
4.
Melakuakan
penanaman caisin ditalang yang telah dilakukan persemaian terlebih dahulu dan
menanam kedelai secara langsung ke polybag.
BAB VI
HASIL PENGAMATAN
- Tabel pengamatan pada tanaman Caisin.
|
Hari ke -
|
JUMLAH DAUN (HELAI)
|
TINGGI TANAMAN (CM)
|
||||
|
7 hst
|
14 hst
|
21 hst
|
7 hst
|
14 hst
|
21 hst
|
|
|
1
|
3
|
4
|
6
|
8
|
8,6
|
12,5
|
|
2
|
4
|
5
|
6
|
9,3
|
10,7
|
12
|
|
3
|
3
|
4
|
5
|
7,7
|
9,2
|
10,7
|
|
4
|
3
|
5
|
6
|
9
|
11
|
13,2
|
|
5
|
2
|
4
|
5
|
5,6
|
8,4
|
9
|
|
6
|
3
|
4
|
6
|
8,8
|
9,8
|
10,7
|
|
7
|
3
|
5
|
7
|
7,1
|
10
|
11,8
|
|
8
|
2
|
3
|
6
|
6
|
7,2
|
10
|
|
9
|
3
|
4
|
5
|
8,3
|
9,2
|
10
|
|
10
|
3
|
5
|
7
|
7,3
|
8,6
|
11
|
- Tabel pengamatan pada tanaman Kedelai.
|
No
|
Tinggi Tanaman (cm)
|
Jumlah Daun (Helai)
|
||||||
|
7 hst
|
15 hst
|
21 hst
|
28 hst
|
7 hst
|
15 hst
|
21 hst
|
28 hst
|
|
|
1
|
15
|
27
|
39
|
60
|
11
|
16
|
29
|
55
|
|
2
|
8
|
12
|
25
|
32
|
5
|
10
|
25
|
48
|
|
3
|
11
|
15
|
28
|
47
|
8
|
9
|
20
|
53
|
|
4
|
13
|
17,5
|
25
|
52
|
9
|
10
|
31
|
49
|
|
5
|
15
|
21
|
28,5
|
63
|
10
|
13
|
28
|
54
|
|
6
|
18
|
25
|
35
|
75
|
13
|
18
|
36
|
53
|
|
7
|
15,5
|
20
|
30
|
62
|
11
|
14
|
27
|
48
|
|
8
|
7
|
23
|
23,5
|
70
|
14
|
16
|
31
|
63
|
|
9
|
16
|
21
|
29
|
65
|
13
|
15
|
26
|
50
|
|
10
|
16
|
13
|
30
|
64
|
11
|
12
|
31
|
55
|
|
11
|
9,5
|
13
|
21,5
|
39
|
7
|
9
|
29
|
49
|
|
12
|
10
|
13,5
|
23
|
40
|
6
|
9
|
22
|
35
|
|
13
|
11,5
|
15,6
|
25
|
47
|
8
|
10
|
25
|
39
|
|
14
|
15
|
20
|
28,5
|
60
|
9
|
14
|
34
|
52
|
|
15
|
16
|
22
|
31
|
67
|
14
|
17
|
32
|
55
|
|
16
|
18,5
|
24
|
33
|
62
|
15
|
18
|
31
|
56
|
|
17
|
18
|
24
|
32
|
69
|
16
|
20
|
31
|
57
|
BAB VII
PEMBAHASAN
Pada
budidaya tanaman caisin, dalam melakukan persemaian dilakukan didalam seed box
yang telah terisi kertas koran basah dan benih-benih caisin disebarkan diatas koran
dan ditutp kembali dengan koran basah, ini dilakukan agar benih-benih caisin
dapat berkecambah dengan baik dan tidak terkena sinar matahari secara langsung
dan tetap menjaga kelembaban. Jika disemai pada tanah, benih-benih caisin dapat
hilang karena terkena air hujan.
Kedelai
adalah tanaman legum yang mempunyai potensi sangat baik untuk dikembangkan. Tanaman ini mempunyai
kemampuan untuk bersimbiosis dengan bakteri
Rhizobium
dalam
menambat N2 (Anonim, 2010). Menurut Soepardi (1983), peningkatan produktivitas kedelai salah satunya
dengan menggunakan inokulan Rhizobium sebagai pupuk hayati. Keuntungan menggunakan
inokulan tersebut adalah dari sebagian N yang ditambat tetap berada dalam akar dan bintil akar
yang terlepas kedalam tanah, nitrogen tersebut akan dimanfaatkan oleh jasad lain dan
berakhir dalam bentuk ammonium dan nitrat. Apabila jasad tersebut mati maka akan terjadi
pelapukan, amonifikasi dan nitrifikasi, sehingga sebahagian N yang ditambat dari udara menjadi
tersedia bagi tumbuhan itu sendiri dan tumbuhan lain disekitarnya.
Pasaribu
et al,. (1989) juga mengemukakan bahwa peningkatan hasil kedelai jelas terjadi dengan mengadakan inokulasi
Rhizobium. Selain itu bakteri Rhizobium juga memberikan dampak positif terhadap
sifat fisik dan kimia tanah yaitu memperbaiki struktur tanah, sumber bahan organik tanah,
meningkatkan sumber hara N, serta memiliki wawasan lingkungan (Alexander, 1977).
Bakteri
Rhizobium telah lama digunakan sebagai pupuk hayati terhadap tanaman kacang-kacangan karena dapat
membentuk bintil akar sehingga dapat mengikat nitrogen bebas. Secara umum inokulasi
dilakukan dengan memberikan biakan Rhizobium kedalam tanah agar bakteri ini berasosiasi
dengan tanaman kedelai mengikat N2 bebas dari udara (Rao, 1994).
Rhizobium
yang
berasosiasi dengan tanaman legum mampu menfiksasi 100-300 kg N/ha dalam satu musim tanam dan
meninggalkan sejumlah N untuk tanaman berikutnya. Rhizobium mampu mencukupi 80%
kebutuhan nitrogen tanaman legum dan meningkatkan produksi
antara 10-25%. Tanggapan tanaman sangat bervariasi tergantung pada kondisi
tanah dan efektifitas populasi
mikroorganisme tanah (Soetanto, 2002).
Menurut Prihatini dan Adiningsih (1980)
bahan inkulum tersebut mengandung biakan bakteri Rhizobium yang berfungsi sebagai
pengikat nitrogen udara karena adanya proses simbiosa bakteri dan tanaman.
Ditinjau dari bintil akar
terbentuk dapat dibagi menjadi bintil akar efektif dan bintil akar tidak
efektif. Bintil akar yang efektif jika dibelah akan berwarna merah muda karena
adanya senyawa Leghemoglobin. Sedangkan bintil akar yang tidak efektif bila
dibelah berwarna putih atau kehijauan. Bintil akar yang efektif mampu menambat
nitrogen jauh lebih besar dari pada bintil akar yang tidak efektif. Bintil
akar yang berwarna merah biasanya mengandung rhizobium, dengan adanya rhizobium
menandakan bahwa tanaman itu aktif mengadakan pembelahan pada akar. Begitu sebaliknya, jika bintil akar berwarna putih, menandakan bahwa bintil akar tersebut tidak mengandung
rhizobium dan tidak mengadakan pembelahan.
Bakteri
Rhizobium mempunyai daya tahan yang dipengaruhi pada kondisi tanah (pH tanah),
kelembaban tanah, bahan organik yang digunakan dan jarak waktu keberadaan
inang. Sehingga apabila semua faktor-faktor tersebut sudah sesuai untuk tumbuh
kembang bakteri, maka terbentuknya bintil-bintil akar akan semakin banyak dan
proses fiksasi nitrogen akan meningkat. Selain itu juga pertumbuhan
tanaman akan meningkat.
Bakteri
Rhizobium japanicum dapat diisolasi pada bintil akar kedelai yang bersimbiose
aktif, kemudian dikulturmurnikan dan dapat dibuat secara inokulum yang dicampur
dengan tanah gambut. Inokulum Rhizobium ini dapat dicampur dengan biji kedelai
saat akan ditanam. Sehingga saat biji kedelai tumbuh sudah ada bakteri
Rhizobium japanicum disekitarnya yang akan bersimbiose dengan akar kedelai
tersebut.
Legin
adalah Inokulum Rhizobium yang mengandung bakteri Rhizobium untuk inokulasi
(menulari) tanaman legum. Legin singkatan dari Legume Inoculant (Legume Inoculum). Bakteri Rhizobium
adalah bakteri yang dapat bersimbiosis dengan tanaman legum, membentuk bintil
akar, dan menambat nitrogen dari udara sehingga mampu mencukupi kebutuhan
nitrogen tanaman sekurang-kurangnya sebesar 75 %.
Faktor
internal dan faktor external yang mempengaruhi bintil akar pada tanaman kedelai
yang tanpa menggunakan legin dikarenakan faktor internal yaitu pemilihan bibit
yang tepat, dan unsur hara yang mencukupi sehingga tanaman biasa menyerap unsur-unsur
tersebut dengan optimal, faktor external yaitu lingkungan dan perawatan antara
lain faktor lingkungan yaitu intensitas cahaya dikarenakan cahaya bisa diserap
secara optimal, faktor perawatan yaitu penyiraman yang optimal serta pembasmian
hama penyakit pada tanaman seperti gulma dan lain-lain.
BAB
VIII
KESIMPULAN
a.
Caisim (Brassica juncea L.)
merupakan tanaman semusim, berbatang pendek hingga hampir tidak terlihat. Daun Caisin berbentuk
bulat panjang serta berbulu halus dan tajam, urat daun utama lebar dan berwarna
putih.
b.
Daerah penanaman caisin yang cocok adalah mulai dari ketinggian 5 meter sampai dengan 1.200 meter
di atas permukaan laut.
c.
Tanah yang cocok untuk ditanami sawi adalah tanah
gembur, banyak mengandung humus, subur, serta pembuangan airnya baik. Derajat
kemasaman (pH) tanah yang optimum untuk pertumbuhannya adalah antara pH 6
sampai pH 7.
d.
Tanaman kedelai umumnya tumbuh tegak,
berbentuk semak, dan merupakan
tanaman semusim. Morfologi tanaman kedelai didukung oleh komponen utamanya, yaitu akar,
daun, batang, polong, dan biji sehingga
pertumbuhannya
bisa optimal.
e.
Keuntungan menggunakan inokulan tersebut
adalah dari sebagian N yang ditambat
tetap
berada dalam akar dan bintil akar yang terlepas kedalam tanah, nitrogen
tersebut akan dimanfaatkan
oleh jasad lain dan berakhir dalam bentuk ammonium dan nitrat.
f.
Rhizobium yang
berasosiasi dengan tanaman legum mampu menfiksasi 100-300 kg N/ha dalam satu musim tanam dan
meninggalkan sejumlah N untuk tanaman berikutnya. Rhizobium mampu mencukupi 80%
kebutuhan nitrogen tanaman legum dan meningkatkan produksi
antara 10-25%.
g.
Bintil
akar terbentuk dapat dibagi menjadi bintil akar efektif dan bintil akar tidak
efektif. Bintil akar yang efektif jika dibelah akan berwarna merah muda karena
adanya senyawa Leghemoglobin. Sedangkan bintil akar yang tidak efektif bila
dibelah berwarna putih atau kehijauan. Bintil akar yang efektif mampu menambat
nitrogen jauh lebih besar dari pada bintil akar yang tidak efektif.
DAFTAR
PUSTAKA
Azizah.
2011. Pengaruh Tiga Inokulan Bakteri Rhizhobium Terhadap Pembentukan Bitil Akar
Tanaman Kedelai (Glycine max. L. Merril). Skripsi. Fakultas Pertanian.
Universitas Andalas Padang. http://repository.unand.ac.id. Diakses 11 Januari 2013.
Fahrudin, F. 2009. Budidaya
Caisin (Brassica Juncea L) Menggunakan Ekstrak Teh Dan Pupuk Kascing. Skripsi.
Fakultas Pertanian. Unversitas Sebelas Maret Surakarta. http://eprints.uns.ac.id. Diakses 13 Januari 2013.
Margiyanto,
E. 2007. Budidaya Tanaman Semusim. http://zuldesains.wordpress.com. Diakses 11 Januari 2013.
Nisa, C.
2012. Budidaya Tanaman Caisin Penyiapan Benih Dan Pembibitan. Fakultas
Pertanian. Polteknik Negri Lampung. http://www.pustaka.litbang.deptan.go.id. Diakses 13 Januari 2013.
Purwanto.
1994. Efektifitas Penggunaan Inokulan Legin (Rhizobium japonicum) Terhadap
Nodulasi Akar Kedelai Pada Substrat Yang Mengandung Insektisida. Skripsi. MIPA.
Unversitas Dipenogoro. http://eprints.undip.ac.id. Diakses 11 januari 2013.
Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking