BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Konsep zat pengatur tumbuh diawali dengan konsep hormon tanaman. Hormon
tanaman adalah senyawa-senyawa organik tanaman yang dalam konsentrasi yang
rendahmempengaruhi proses-proses fisiologis. Proses-proses fisiologis ini terutamatentang
proses pertumbuhan, differensiasi dan perkembangan tanaman. Proses-proseslain
seperti pengenalan tanaman, pembukaan stomata, translokasi dan serapan
haradipengaruhi oleh hormon tanaman. Hormon tanaman kadang-kadang juga
disebutfitohormon, tetapi istilah ini lebih jarang digunakan.Istilah hormon ini
berasal dari bahasa Gerika yang berarti pembawa pesankimiawi (Chemical
messenger) yang mula-mula dipergunakan pada fisiologi hewan.Dengan
berkembangnya pengetahuan biokimia dan dengan majunya industry kimia maka
ditemukan banyak senyawa-senyawa yang mempunyai pengaruh fisiologisyang serupa
dengan hormon tanaman. Senyawa-senyawa sintetik ini pada umumnyadikenal dengan
nama zat pengatur tumbuh tanaman (ZPT = Plant Growth Regulator).
Tentang senyawa hormon tanaman dan zat pengatur tumbuh, Moore
mencirikannyasebagai berikut :
1.
Fitohormon atau hormon tanaman adalah senyawa organik bukan nutrisi yangaktif
dalam jumlah kecil (< 1mM) yang disintesis pada bagian tertentu, padaumumnya
ditranslokasikan kebagian lain tanaman dimana senyawa tersebut,menghasilkan
suatu tanggapan secara biokimia, fisiologis dan morfologis.
2. Zat
Pengatur Tumbuh adalah senyawa organik bukan nutrisi yang dalam
konsentrasirendah (< 1 mM) mendorong, menghambat atau secara kualitatifmengubah
pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
3. Inhibitor
adalah senyawa organik yang menghambat pertumbuhan secara umumdan tidak ada
selang konsentrasi yang dapat mendorong pertumbuhan.
Pertumbuhan,
perkembangan, dan pergerakan tumbuhan dikendalikan beberapagolongan zat yang
secara umum dikenal sebagai hormon
tumbuhan atau fitohormon. Penggunaan istilah "hormon" sendiri
menggunakan analogi fungsihormon pada hewan; dan, sebagaimana pada hewan,
hormon juga dihasilkan dalamjumlah yang sangat sedikit di dalam sel. Beberapa
ahli berkeberatan dengan istilah inikarena fungsi beberapa hormon tertentu
tumbuhan (hormon endogen,
dihasilkansendiri oleh individu yang bersangkutan) dapat diganti dengan
pemberian zat-zattertentu dari luar, misalnya dengan penyemprotan (hormon eksogen, diberikan dariluar
sistem individu). Mereka lebih suka menggunakan istilah zat pengatur tumbuh(bahasa
Inggris plant growth regulator).
Hormon
tumbuhan merupakan bagian dari proses regulasi genetik dan berfungsisebagai
prekursor. Rangsangan lingkungan memicu terbentuknya hormon tumbuhan.Bila
konsentrasi hormon telah mencapai tingkat tertentu, sejumlah gen yang
semulatidak aktif akan mulai ekspresi. Dari sudut pandang evolusi, hormon
tumbuhanmerupakan bagian dari proses adaptasi dan pertahanan diri
tumbuh-tumbuhan untukmempertahankan kelangsungan hidup jenisnya.
B. TEORI
DASAR
Tumbuhan memproduksi ZPT dalam jumlah
yang sangat sedikit, akan tetapi jumlah yang
sedikit ini mampu mempengaruhi sel target. ZPT menstimulasi
pertumbuhan dengan memberi isyarat kepada sel target untuk membelah atau
memanjang, beberapa ZPT menghambat pertumbuhan dengan cara menghambat pembelahan
atau pemanjangan sel. Sebagian
besar molekul ZPT dapat mempengaruhi metabolisme
dan perkembangan sel-sel tumbuhan. ZPT melakukan ini dengan cara mempengaruhi
lintasan sinyal tranduksi pada sel target. Pada tumbuhan seperti halnya pada hewan,
lintasan ini menyebabkan respon selular seperti mengekspresikan suatugen,
menghambat atau mengaktivasi enzim, atau mengubah membran.
Pengaruh
dari suatu ZPT bergantung pada spesies tumbuhan, situs aksi ZPT pada tumbuhan,
tahap perkembangan tumbuhan dan konsentrasi ZPT. Satu ZPT tidakbekerja sendiri
dalam mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan, pada umumnya
keseimbangan konsentrasi dari beberapa ZPT-lah yang akan mengontrol pertumbuhan
dan perkembangan tumbuhan.
Suatu
hormon, dapat berperan dengan mengubah
ekspresi gen, dengan mempengaruhi aktivitas enzim yang ada, atau dengan mengubah sifat membran. Beberapa
peranan ini, dapat mengalihkan metabolisme dan pekembangansel yang tanggap
terhadap sejumlah kecil molekul hormon. Lintasan
transduksi sinyal, memperjelas
sinyal hormona dan meneruskannya ke respon sel spesifik.
Respon
terhadap hormon, biasanya tidak begitu tergantung pada jumlah absolute hormon
tersebut, akan tetapi tergantung pada konsentrasi
relatifnya dibandingkan dengan hormon lainnya. Keseimbangan hormon, dapat mengontrol
pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan daripada peran hormon secara mandiri.
Interaksi ini akan menjadi muncul dalam penyelidikan tentang fungsi hormon.
1. Auksin
Istilah
auksin diberikan pada sekelompok senyawa kimia yang memiliki fungsiutama
mendorong pemanjangan kuncup yang sedang berkembang. Beberapa auksin dihasilkan
secara alami oleh tumbuhan, misalnya IAA
(indoleacetic acid), PAA (Phenylacetic
acid), 4-chloro IAA (4-chloroindole
acetic acid) dan IBA (indolebutyricacid) dan beberapa lainnya
merupakan auksin sintetik, misalnya NAA (napthaleneacetic acid), 2,4 D
(2,4 dichlorophenoxyacetic acid) dan MCPA (2-methyl-4chlorophenoxyacetic
acid).
Istilah auksin juga digunakan untuk
zat kimia yang meningkatkan perpanjangan koleoptil;
walaupun demikian, auksin pada kenyataannya mempunyai fungsi ganda pada Monocotyledoneae
maupun pada Dicotyledoneae. Auksin alami yang berada di dalam tumbuhan,
adalah asam indol asetat (IAA=Indol Asetic Acid), akan tetapi, beberapa senyawa
lainnya, termasuk beberapa sintetisnya, mempunyai aktivitas seperti auksin. Nama auksin
digunakan khususnya terhadap IAA. Walaupun auksin merupakan hormon
tumbuhan pertama yang ditemukan, namun masih banyak yang harus dipelajari tentang
transduksi sinyal auksin dan tentang regulasi biosintesis auksin. Kenyataan sekarang mengemukakan
bahwa auksin diproduksi dari asam amino triptopan di dalam ujung tajuk
tumbuhan.
Pengaruh IAA
terhadap pertumbuhan batang dan akar tanaman kacang kapri. Kecambah
yang diberi perlakuan IAA menunjukkan pertambahan tinggi yang lebihbesar
(kanan) dari tanaman kontrol (kurva hitam). Tempat sintesis utama auksin pada tanaman
yaitu di daerah meristem apikal tunas ujung. IAA yang diproduksi di tunas ujung
tersebut diangkut ke bagian bawah dan berfungsi mendorong pemanjangan sel batang. IAA
mendorong pemanjangan sel batang hanya pada konsentrasi tertentu yaitu 0,9 g/l. Di
atas konsentrasi tersebut IAA akan menghambat pemanjangan sel batang. Pengaruh
menghambat ini kemungkinan terjadi karena konsentrasi IAA yang tinggi mengakibatkan
tanaman mensintesis ZPT lain yaitu etilen yang memberikan pengaruh berlawanan
dengan IAA. Berbeda dengan pertumbuhan batang, pada akar, konsentrasiIAA yang
rendah (<10-5 g/l) memacu pemanjangan sel-sel akar, sedangkan konsentrasi IAA yang
tinggi menghambat pemanjangan sel akar. Sehingga dapat disimpulkan :
1.
Pemberian ZPT yang sama tetapi dengan konsentrasi yang
berbeda menimbulkan
pengaruh yang berbeda pada satu sel target.
2.
Pemberian ZPT dengan konsentrasi tertentu dapat
memberikan pengaruh yangberbeda pada sel-sel target yang berbeda.
2. Sitokinin
Sitokinin
merupakan ZPT yang mendorong pembelahan
(sitokinesis). Beberapa macam sitokinin merupakan
sitokinin alami (misal : kinetin, zeatin)
dan beberapa lainnya merupakan sitokinin
sintetik. Sitokinin alami dihasilkan pada
jaringan yang tumbuh aktif terutama pada akar, embrio dan
buah. Sitokinin yang diproduksi di akar selanjutnya diangkut oleh xilem menuju
sel-sel target pada batang.
Ahli
biologi tumbuhan juga menemukan bahwa sitokinin dapat
meningkatkan pembelahan, pertumbuhan dan perkembangan kultur sel
tanaman. Sitokinin juga menunda penuaan daun, bunga dan buah dengan cara
mengontrol dengan baik proses kemunduran yang menyebabkan kematian
sel-sel tanaman. Penuaan pada daun melibatkan penguraian klorofil dan
protein-protein, kemudian produk tersebut diangkut oleh floem ke jaringan
meristem atau bagian lain dari tanaman yang membutuhkannya.
Sebagian
besar tumbuhan memiliki pola pertumbuhan yang kompleks yaitu
tunaslateralnya tumbuh bersamaan dengan tunas terminalnya. Pola
pertumbuhan inimerupakan hasil interaksi antara auksin dan
sitokinin dengan perbandingan tertentu.
Sitokinin
diproduksi dari akar dandiangkut ke tajuk, sedangkan auksin
dihasilkan dikuncup terminal kemudian diangkut ke bagian bawah tumbuhan. Auksin
cenderung menghambat aktivitas meristem lateral yang letaknya berdekatan dengan
meristem apikal sehingga membatasi pembentukan tunas-tunas cabang dan fenomena
ini disebut dominasi apikal. Kuncup aksilar yang terdapat di bagian bawah
tajuk (daerah yang berdekatan dengan akar) biasanya
akan tumbuh memanjang dibandingkan dengan tunas
aksilar yang terdapat dekat dengan kuncup terminal. Hal ini
menunjukkan ratiositokinin terhadap auksin yang lebih tinggi pada bagian
bawah tumbuhan.
Interaksi
antagonis antara auksin dan sitokinin juga
merupakan salah satu cara tumbuhan dalam mengatur derajat
pertumbuhan akar dan tunas, misalnya jumlah akar yang banyak
akan menghasilkan sitokinin dalam jumlah
banyak. Peningkatan konsentrasi sitokinin ini
akan menyebabkan sistem tunas membentuk
cabang dalam jumlah yang lebih banyak. Interaksi
antagonis ini umumnya juga terjadi di antara ZPT tumbuhan lainnya.
Pada
tahun 1926, ilmuwan Jepang (Eiichi Kurosawa)
menemukan bahwa cendawan Gibberella fujikuroi
mengeluarkan senyawa kimia yang menjadi penyebab
penyakit tersebut. Senyawa kimia tersebut dinamakan
Giberelin. Belakangan ini, para peneliti menemukan bahwa
giberelin dihasilkan secara alami
oleh tanaman yang memiliki fungsi sebagai
ZPT. Penyakit rebah kecambah ini akan
muncul pada saat tanaman padi terinfeksi oleh cendawan Gibberella
fujikuroi yang menghasilkan senyawa giberelin dalam jumlah berlebihan.
Pada
saat ini dilaporkan terdapat lebih dari 110
macam senyawa giberelin yang biasanya disingkat sebagai GA.
Setiap GA dikenali dengan angka yang terdapat padanya, misalnya GA6 .
Giberelin dapat diperoleh dari biji yang belum
dewasa (terutama pada tumbuhan dikotil), ujung akar dan tunas ,
daun muda dan cendawan. Sebagian besar GA yang diproduksi oleh tumbuhan
adalah dalam bentuk inaktif, tampaknya memerlukan prekursor
untuk menjadi bentuk aktif.
Pada spesies
tumbuhan dijumpai kurang lebih 15 macam GA. Disamping terdapat pada
tumbuhan ditemukan juga pada alga, lumut dan paku,
tetapi tidak pernah dijumpai pada bakteri.
GA ditransportasikan melalui xilem dan floem, tidak seperti auksin
pergerakannya bersifat tidak polar.
Salah satu
zat kimia yang diperlukan dalam proses pemuliaan tanaman adalah GA3,
sejak tahun 1950 orang sudah menaruh harapan besar terhadap GA terutama untuk
meningkatkan produksi tanaman budidaya. GA sintesis yang biasanya tersedia
secara komersial adalah GA3, GA7, GA13.
Giberelin terdapat dalam berbagai organ: akar, batang, tunas, daun, tunas-
tunas bunga, bintil akar, buah, dan jaringan kalus. (Heddy, 1986).
Asetil koA,
yang berperan penting pada proses respirasi berfungsi sebagai prekursor
pada sintesis GA. Kemampuannya untuk meningkatkan
pertumbuhan pada tanaman lebih kuat dibandingkan
dengan pengaruh yang ditimbulkan oleh
auksin apabila diberikan secara tunggal. Namun
demikian auksin dalam jumlah yang sangat
sedikit tetap dibutuhkan agar GA dapat memberikan efek yang maksimal.
Sebagian besar tumbuhan dikotil dan
sebagian kecil tumbuhan monokotil akan tumbuh
cepat jika diberi GA, tetapi tidak
demikian halnya pada tumbuhan konifer misalnya
pinus. Jika GA diberikan pada tanaman
kubis tinggi tanamannya bisa mencapai 2 m.Banyak
tanaman yang secara genetik kerdil akan tumbuh normal setelah diberi
GA. Efek giberelin tidak hanya mendorong
perpanjangan batang, tetapi juga terlibat dalam
proses regulasi perkembangan tumbuhan seperti
halnya auksin. Pada beberapa tanaman pemberian
GA bisa memacu pembungaan dan mematahkan dormansi
tunas-tunas serta biji.
4. Asam absisat
(ABA)
Musim
dingin atau masa kering merupakan waktu
dimana tanaman beradaptasi menjadi dorman
(penundaan pertumbuhan). Pada saat itu, ABA
yang dihasilkan oleh kuncup menghambat pembelahan sel pada jaringan
meristem apikal dan pada cambium pembuluh sehingga menunda
pertumbuhan primer maupun sekunder. ABA juga
memberi sinyal pada kuncup untuk membentuk sisik yang akan melindungi kuncup
dari kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan. Dinamai
dengan asam absisat karena diketahui bahwa ZPT
ini menyebabkan absisi/rontoknya daun tumbuhan pada musimgugur. Nama
tersebut telah popular walaupun para peneliti tidak pernah
membuktikan kalau ABA terlibat dalam gugurnya daun.
Pada
kehidupan suatu tumbuhan,merupakan
hal yang menguntungkan untuk
menunda/menghentikan pertumbuhan sementara. Dormansi
biji sangat penting terutama bagi tumbuhan setahun di daerah
gurun atau daerah semiarid, karena proses perkecambahan dengan
suplai air terbatas akan mengakibatkan kematian. Sejumlah faktor
lingkungan diketahui mempengaruhi dormansi biji, tetapi pada
banyak tanaman ABA tampaknya bertindak sebagai penghambat
utama perkecambahan. Biji-biji tanaman setahun tetap
dorman di dalam tanah sampai air hujan mencuci ABA
keluar dari biji.
5. Etylene
Buah-buahan
mempunyai arti penting sebagi sumber vitamine, mineral, dan zat-zat
lain dalam menunjang kecukupan gizi. Buah-buahan
dapat kita makan baik pada keadaan mentah maupun
setelah mencapai kematangannya. Sebagian besar buah yang dimakan
adalah buah yang telah mencapai tingkat
kematangannya. Untuk meningkatkan hasil buah yang
masak baik secara kualias maupun kuantitasnya dapat
diusahakan dengan substansi tertentu antara
lain dengan zat pengatur pertumbuhan ethylene. Dengan
mengetahui peranan ethylene dalam pematangan
buah kita dapat menentukan penggunaannya dalam industri
pematangan buah atau bahkan mencegah produksi dan aktifitas
ethyelen dalam usaha penyimpanan buah-buahan.
Ethylene
mula-mula diketahui dalam buah yang matang
oleh para pengangkut buah tropica selama pengapalan dari
Yamaika ke Eropa pada tahun 1934, pada pisang masak lanjut
mengeluarkan gas yang juga dapat memacu pematangan buah yang belum masak. Sejak
saat itu ethylene (C2 H2)
dipergunakan sebagai sarana pematangan buah dalam industri.
Ethylene
adalah suatu gas yang dapat digolongkan
sebagai zat pengatur pertumbuhan (phytohormon)
yang aktif dalam pematangan. Dapat
disebut sebagai hormon karena telah memenuhi
persyaratan sebagai hormon, yaitu dihasilkan oleh
tanaman, besifat mobil dalam jaringan
tanaman dan merupakan senyawa organik. Seperti
hormon lainnya ethylene berpengaruh pula
dalam proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman antara lain
mematahkan dormansi umbi kentang, menginduksi pelepasan daun
atau leaf abscission, menginduksi pembungaan
nenas. Denny
danMiller (1935) menemukan bahwa ethylene dalam buah, bunga, biji, daun dan
akar.
Proses
pematangan buah sering dihubungkan dengan rangkaian perubahan yang dapat
dilihat meliputi warna, aroma, konsistensi dan flavour (rasa dan bau).
Perpaduan sifat-sifat tersebut akan menyokong kemungkinan buah-buahan enak
dimakan. Proses pematangan buah didahului dengan klimakterik (pada buah
klimakterik). Klimakterik dapat didefinisikan sebagai
suatu periode mendadak yang unik bagi buah dimana
selama proses terjadi serangkaian perubahan
biologis yang diawali dengan proses sintesis ethylene.
Meningkatnya
respirasi dipengaruhi oleh jumlah ethylene yang dihasilkan,
meningkatnya sintesis protein dan RNA.
Proses kl imakterik pada Apel diperkirakan karena adanya
perubahan permeabilitas selnya yang menyebabkan enzym dan susbrat
yang dalam keadaan normal terpisah, akan
bergabung dan bereaksi satu dengan lainnya.
Perubahan
warna dapat terjadi baik oleh proses-proses
perombakan maupun proses sintetik, atau keduanya. Pada jeruk manis
perubahan warna ni disebabkan oleh karena perombakan khlorofil dan pembentukan
zat warna karotenoid. Sedangkan pada pisang warna kuning
terjadi karena hilangnya khlorofil tanpa
adanya atau sedikitpembentukan zat karotenoid.
Sisntesis likopen dan perombakan khlorofil merupakan
ciri perubahan warna pada buah tomat.
Menjadi
lunaknya buah disebabkan oleh perombakan propektin yang tidak
larutmenjadi pektin yang larut, atau hidrolisis zat pati (seperti buah waluh)
atau lemak (pada adpokat). Perubahan komponen-komponen
buah ini diatur oleh enzym-enzym antara lain
enzym hidroltik, poligalakturokinase, metil asetate, selullose.
Flavour
adalah suatu yang halus dan rumit
yang ditangkap indera yang merupakan kombinasi rasa (manis,
asam, sepet), bau (zat-zat atsiri) dan terasanya pada lidah. Pematangan
biasanya meningkatkan jumlah gula-gula sederhana yang memberi
rasa manis, penurunan asam-asam organik dan
senyawa-senyawa fenolik yang mengurangi rasa
sepet dan masam, dan kenaikan zat-zat
atsiri yang memberi flavour khas pada buah.
Proses
pematangan juga diatur oleh hormon antara
lain auksin,
sithokinine, gibberellin, asam-asam absisat dan
ethylene. Auxin berperanan
dalam pembentukan ethylene, tetapi auxin juga
menghambat pematangan buah. Sithokinine
dapatmenghilangkan perombakan protein, gibberellin menghambat perombakan khlorofil
dan menunda penimbunan karotenoid-karotenoid. Asam absisat
menginduksi enzym penyusun/pembentuk karotenoid, dan ethylene dapat mempercepat
pematangan.
6. TRIAKONTANOL
Triakontanol
adalah alkohol rantai panjang yang
memeiliki 30 atom karbon dalam molekulnya.
Triakontanol merupakan alkohol lemak, juga lebih dikenal
dengan Melissyl alkohol atau Myricyl alkohol.
Kelompok
–OH, ciri dari alkohol, berada pada
akhir rantai. Rumus kimianyaC₃₀H₆₂O dan berat molekulnya
adalah 438,42. Dalam suhu kamar, triakontanol
berbentuk solid (padat) dan titik cairnya
pada suhu 85-90oC. Triakontanol
tidak larut dalam air, larut dalam pelarut organik yang berbeda,
polaric dan non-polaric di alam triakontanol dapat ditemukan dalam kutikula
dari berbgai jenis tanaman.
Dalam bentuk
ester, dimana triakontanol bereaksi dengan asam dan bahan padat duitemukan
dalam lilin. 1-triakontanol yang ditemukan sekitar 1930-an, sampai hari ini
juga diproduksi secara sintetis, menghasilkan
begitu banyak produk murni daripada ketika diekstrak
dari bahan tanaman.
Triakontanaol
merupakan pemacu pertumbuhan (groeth stimulant)
pada beberapa jenis tanaman, sebagian besar
ditemukan pada ros yang pemberiannya meningkatkan
jumlah basal breaks.
C. TUJUAN
PRAKTIKUM
ü
Mahasiswa
dapat mengetahui peranan ZPT pada tanaman
ü
Mahasiswa
dapat mengetahui macam-macam ZPT
ü
Mahasiswa
dapat mengaplikasikan hormon growthone dan NAA murni dalam stek batang bunga
potong.
ü
Mahasiswa
dapat mengaplikasikan kinetin dan BAP dalam pengguguran bunga potong.
D. ALAT
DAN BAHAN
ü
Gelas
ü
Pipet
ü
Filter
Pump
ü
Gelas
ukur
ü
Gunting
ü
Mangkuk
ü
Spidol
ü
Bunga
Potong Krisan
ü
Kinetin
ü
BAP
ü
Growthone
ü
NAA
Murni
E.
CARA KERJA
1.
Uji Kinetin pada perendaman bunga potong
Krisan.
a.
Mencampurkan air dengan larutan Kinetin ke
dalam masing-masing gelas dengan jumlah dan konsentrasi yang berbeda untuk
setiap gelas. Mengambil larutan Kinetin sebanyak 1 ml dengan menggunakan filter pump dan menuangkannya ke dalam
gelas yang berisi air sebanyak 100 ml untuk memperoleh larutan dengan
konsentrasi 1 ppm.
b.
Mengambil larutan Kinetin sebanyak 2 ml dan
menuangkannya ke dalam gelas yang berisi air 100 ml untuk mendapatkan larutan
dengan konsentrasi 2 ppm. Begitu seterusnya untuk langkah pencampurannya hingga
perlakuan ke 5, yaitu 5 ppm.
c.
Menyiapkan pula gelas berisi air yang tidak
mendapatkan campuran larutan Kinetin untuk dijadikan kontrol.
d.
Memberikan label pada setiap gelas menurut
konsentrasi larutannya.
e.
Kemudian melakukan perendaman bunga Krisan
pada setiap gelas yang berisi larutan Kinetin. Sebelum itu, bunga Krisan
dipotong terlebih dahulu untuk menyesuaikan dengan ukuran gelas.
f.
Melakukan pengamatan pada masing-masing fisik
bunga dari segi kesegaran dan warna batang, daun, dan bunga. Kemudian
membandingkan hasil kenampakan antar perlakuan konsentrasi larutan Kinetin
tersebut.
2.
Uji BAP pada perendaman bunga potong Krisan.
a.
Mencampurkan air dengan larutan BAP ke dalam
masing-masing gelas dengan jumlah dan konsentrasi yang berbeda untuk setiap
gelas. Mengambil larutan BAP sebanyak 1 ml dengan menggunakan filter pump dan menuangkannya ke dalam
gelas yang berisi air sebanyak 100 ml untuk memperoleh larutan dengan
konsentrasi 1 ppm.
b.
Mengambil larutan BAP sebanyak 2 ml dan
menuangkannya ke dalam gelas yang berisi air 100 ml untuk mendapatkan larutan
dengan konsentrasi 2 ppm. Begitu seterusnya untuk langkah pencampurannya hingga
perlakuan ke 5, yaitu 5 ppm.
c.
Menyiapkan pula gelas berisi air yang tidak
mendapatkan campuran larutan BAP untuk dijadikan kontrol.
d.
Memberikan label pada setiap gelas menurut
konsentrasi larutannya.
e.
Kemudian melakukan perendaman bunga Krisan
pada setiap gelas yang berisi larutan BAP. Sebelum itu, bunga Krisan dipotong
terlebih dahulu untuk menyesuaikan dengan ukuran gelas.
f.
Melakukan pengamatan pada masing-masing fisik
bunga dari segi kesegaran dan warna batang, daun, dan bunga. Kemudian
membandingkan hasil kenampakan antar perlakuan konsentrasi larutan BAP
tersebut.
3.
Uji Growtone
pada stek bunga Krisan.
a.
Membuat pasta dari bubuk Growtone, yakni dengan mencampurkan secara sedikit demi sedikit air
dengan 1,5 – 2 gram bubuk Growtone
hingga memperoleh bentuk pasta.
b.
Mengoleskan permukaan pangkal batang bunga
Krisan yang telah dipotong miring ke pasta Growtone
dan kemudian menanamkannya ke talang yang telah berisi media tanam berupa
pasir.
c.
Melakukan pengamatan pada masing-masing batang
bunga mengenai kemunculan akar. Kemudian membandingkan hasil kenampakan
tersebut dengan uji NAA.
4.
Uji NAA pada setek batang bunga Krisan.
a.
Membuat larutan NAA yang telah dicampurkan
dengan 20 ml air.
b.
Mencelupkan bahan stek ke dalam larutan NAA
beberapa menit, kemudian menancapkannya ke talang yang telah berisi media tanam
berupa pasir.
c.
Melakukan pengamatan pada masing-masing batang
bunga mengenai kemunculan akar. Kemudian membandingkan hasil kenampakan
tersebut dengan uji Growtone.
F. HASIL
PENGAMATAN
Tabel
pengamatan zat pengatur tumbuhan
v
Aplikasi hormon pada stek batang bunga potong
|
Hormon
|
Pengaruh Aplikasi Hormon
|
|
Growthone
NAA Murni
|
Hormon ini lebih mengutamakan akar terlebih dahulu
kemudian akan memunculkan tunas.
Hormon ini lebih mengutamakan tunas kemudian akar.
|
v
Aplikasi kinetin dengan pencelupan bunga potong
|
Hormon
|
Aplikasi Hormon
|
Tingkat Kelayuan
|
|
Kinetin
|
Kontrol
1 ppm
2 ppm
3 ppm
4 ppm
5 ppm
|
Sangat layu
Sangat layu
Tidak layu
Agak layu
Agak layu
Agak layu
|
v
Aplikasi BAP dengan pencelupan bunga potong
|
Hormon
|
Aplikasi Hormon
|
Tingkat Kelayuan
|
|
BAP
|
Kontrol
1 ppm
2 ppm
3 ppm
4 ppm
5 ppm
|
Tidak layu
Paling pucuk terdapat kelayuan
Tangkai bawah lebih segar
Tangkai bawah lebih segar
Segar
Tangkai lebih hijau
|
BAB II
PEMBAHASAN
Hormon kinetin dan BAP merupakan hormon yang mempertahankan tanaman dari
tingkat kelayuan. Hormon tersebut termasuk dengan dengan hormon sitokinin yang
mempertahankan tanaman dari penuaan. Sitokinin diproduksi oleh tanaman itu
sendiri di dalam jaringan yang sedang tumbuh aktif khususnya pada akar, embrio,
dan buah. Sitokinin yang diproduksi di dalam
akar, akan sampai ke jaringan yang dituju, dengan bergerak ke
bagian atas tumbuhan di dalam cairan xylem. Bekerja
bersama-sama dengan auksin; sitokinin menstimulas pembelahan sel dan
mempengaruhi lintasan diferensiasi.
Sitokinin, dapat menahan
penuaan beberapa organ tumbuhan, dengan menghambat pemecahan
protein, dengan menstimulasi RNA dan sintesis protein, dan dengan
memobilisasi nutrien dari jaringan di sekitarnya.
Apabila daun yang
dibuang dari suatu tumbuhan dicelupkan ke dalam
larutan sitokinin, maka daun itu akan tetap hijau lebih
lama daripada biasanya. Sitokinin juga memperlambat
deteorisasi daun pada tumbuhan utuh. Karena efek anti penuaan ini, para
floris melakukan penyemprotan sitokinin untuk menjaga
supaya bunga potong tetap segar.
Dalam pengaplikasian hormon
kinetin pada bunga potong dapat dilihat pada tabel diatas bahwa untuk perlakuan
kontrol, 1 ppm, 3 ppm, 4 ppm, dan 5 ppm mengalami kelayuan pada bunga dan daun
bunga potong. Ini disebabkan karena tanaman tidak dapat mempertahankan
kelayuannya, dilihat saja untuk aplikasi 1 ppm hormon ini sangat rendah sehingga
tidak mampu memberikan pengaruh yang baik pada bunga potong. Sedangkan untuk 3
ppm, 4 ppm dan 5 ppm aplikasi perlakuan ini memiliki kadar hormone yang
berlebihan sehingga berdampak negatif pada bunga potong dan tidak dapat mempertahankaannya.
Pada pengaplikasian dosis tersebut bunga potong tidak mampu mempertahankan
proses fisiologinya karena fotosintesisnya mengalami kerusakan.
Pengaplikasian dosis hormon
kinetin yang cukup baik untuk diaplikasikan ke bunga potong adalah dengan dosis
2 ppm yang mampu mempertahankan dari tingkat kelayuan. Karena dengan dosis 2
ppm bunga potong masih dapat melakukan proses fisiologi terutama untuk proses
fotosistesis pada bunga potong.
BAP (6-Benzyl Amino Purine) merupakan golongan
sitokinin sintetik yang paling sering digunakan dalam perbanyakan tanaman secara kultur in vitro. Hal ini karena BAP mempunyai
efektifitas yang cukup tinggi untuk perbanyakan
tunas, mudah didapat dan relatif
lebih murah dibandingkan dengan
kinetin
(Krikorian, 1995; Yusnita, 2003).
Dalam
pengaplikasian hormon BAP yang bermaksud untuk menguji ketahanan bunga potong
terhadap kelayuan atau penuaan dengan berbagai macam dosis yang digunakan
yaitu; kontrol, 1 ppm, 2 ppm, 3 ppm, 4 ppm, 5 ppm. Untuk kontrol tidak
mengalami kelayuan karena sifat polarnya lebih baik.
Dengan dosis 1 ppm bunga
potong mengalami kelayuan pada bagian paling pucuk, karena pada bagian pucuk
bunga potong mengalami dormansi atau penuaan/sensen sehingga proses fisiologi
terhambat atau rusak akibat tangkai tidak dapat menyerap sitokinin. Untuk dosis
2 ppm, 3 ppm, dan 5 ppm pada tangkai bawah lebih segar dan berwarna hijau ini
terjadi karena efek ZPT dimana diproduksi sitokinin akan digunakan lebih dekat
untuk diberikan atau akan lebih terangsang pada bagian bawah yakni pada tangkai
bunga potong. Dan pada bagian pucuk yakni bunga akan mengalami dormansi auksin
atau penuaan/sensen. Sedangkan dosis 4 ppm menghasilkan bunga potong tetap
segar.
Perbedaan kinetin dan BAP
yang dilihat dari mahkota bunga potong adalah pada pengaplikasian BAP dengan
dosis 4 ppm karena luas mahkota bunga yang lebih kecil, sehingga untuk laju
respirasi oleh fisiologi tanaman akan mempengaruhi tingkat konsentrasi yang
diaplikasikan. Sedangkan untuk kinetin dengan dosis 2 ppm karena luas daun
mahkota bunga potong lebih luas permukaannya, maka dalam laju respirasi akan
lebih tinggi dan mengalami kelayuan.
Menurut
Hess (1975) sitokinin mempunyai
kemampuan mendorong terjadinya
pembelahan sel dan diferensiasi jaringan
terutama dalam pembentukan pucuk.
Senyawa nitrogen yang terkandung
dalam
sitokinin berperan untuk proses sintesis
asam-asam amino dan protein secara
optimal yang selanjutnya digunakan
untuk
proses pertumbuhan dan perkembangan
eksplan dalam hal ini pembentukan
daun (Gardner dkk., 1991).
Menurut
Utami (1998) sitokinin dalam
hal ini BAP berperan memacu terjadinya
sintesis RNA dan protein pada berbagai
jaringan yang selanjutnya dapat mendorong
terjadinya pembelahan sel. Selain
itu, BAP juga dapat memacu jaringan
untuk menyerap air dari sekitarnya
sehingga
proses sintesis protein dan pembelahan
sel dapat berjalan dengan baik. Chaerudin
dkk. (1996) menambahkan BAP merupakan
suatu zat pengatur tumbuh sintetik
yang tidak mudah dirombak oleh sistem
enzim dari tanaman sehingga dapat
memacu
induksi dan multiplikasi tunas.
Hormon growthone dan NAA
murni termasuk hormon auksin. Auksin banyak diaplikasikan pada tanaman terutama
stek. Auksin berperan dalam pemanjangan sel, pembentukan akar lateral dan akar
adventif, dan sebagai herbisida pada tananam. Dalam praktikum pengaplikasian
growthone merupakan zat perangsan tumbuhan yang sangat berguna untuk merangsang
pertumbuhan akar terutama pada stek bunga potong lebih mengutamakan untuk
membentuk akar terlebih dahulu untuk memperkuat sistem fisiologi tanaman, dan
baru memunculkan tunas-tunas baru. Manfaat Penggunaan Growtone antara
lain :
- Mempercepat keluar Akar, sehingga stek/tanaman cepat tumbuh.
- Memperbanyak dan memperpanjang akar membuat tanaman lebih kokoh, sehat dan cepat besar.
- Memperbanyak umbi pada tanaman singkong dan ketela rambat, dengan demikian hasil semakin meningkat.
- Melindungi luka bekas potongan, sehingga stek/tanaman terhindar dari bakteri/cendawan pembusuk.
Sedangkan hormon NAA murni leih mengutamakan tunas
untuk membantu pertumbuhan tanaman agar tetap hidup dan mampu melakukan proses
fisiologi dengan baik, kemudian akan membentuk akar untuk memperkuat tanaman
agar tidak roboh.
Auksin digunakan secara komersial di
dalam perbanyakan vegetatif tumbuhan melalui stek.
Suatu potongan daun, maupun potongan batang, yang
diberi serbuk pengakaran yang mengandung auksin, seringkali
menyebabkan terbentuknya akar adventif dekat permukaan potongan
tadi. Auksin juga terlibat di dalam pembentukan percabangan akar.
Beberapa peneliti menemukan bahwa dalam mutan Arabidopsis, yang memperlihatkan
perbanyakan akar lateral yang ekstrim ternyata mengandung auksin dengan
konsentrasi 17 kali lipat dari konsentrasi yang normal.
Meristem tunas apikal adalah tempat
utama sintesis auksin. Pada saat auksin bergerak dar ujung tunas ke bawah ke
daerah perpanjangan sel, maka hormon auksin mengstimulasi pertumbuhan sel,
mungkin dengan mengikat reseptor yang dibangun di dalam membran
plasma.
Auksin akan
menstimulasi pertumbuhan hanya pada kisaran
konsentrasi tertentu; yaitu antara : 10-8 M sampai 10-4 M. Pada konsentrasi
yang lebih tinggi; auksin akan menghambat perpanjangan sel, mungkin dengan
menginduksi produksi etilen, yaitu suatu hormon yang
pada umumnya berperan sebagai inhibitor pada
perpanjangan sel.
Berdasarkan suatu
hipotesis yang disebut hipotesis pertumbuhan asam
(acid growth hypothesis), pemompaan proton
membran plasma memegang peranan utama
dalam respon pertumbuhan sel terhadap auksin. Di daerah
perpanjangan tunas, auksin menstimulasi pemompaan proton membran plasma, dan
dalam beberapa menit; auksin akan meningkatkan potensial membran (tekanan melewati
membran) dan menurunkan pH di dalam dinding sel.
Auksin juga mengubah
ekspresi gen secara cepat, yang menyebabkan sel dalam daerah
perpanjangan, memproduksi protein baru, dalam jangka waktu beberapa
menit. Beberapa protein, merupakan faktor transkripsi
yang secara menekan ataupun mengaktifkan ekspresi gen
lainnya.
Untuk pertumbuhan
selanjutnya, setelah dorongan awal ini, sel akan membuat lagi
sitoplasma dan bahan dinding sel. Auksin juga menstimulasi respon pertumbuhan
selanjutnya.
Kerja hormon auksin ini sinergis
dengan hormon sitokinin dan hormon giberelin. Tumbuhan yang pada salah satu
sisinya disinari oleh matahari maka pertumbuhannya akan lambat karena kerja
auksin dihambat oleh matahari tetapi sisi tumbuhan yang tidak disinari oleh
cahaya matahari pertumbuhannya sangat cepat karena kerja auksin tidak dihambat.
Sehingga hal ini akan menyebabkan ujung tanaman tersebut cenderung mengikuti
arah sinar matahari atau yang disebut dengan fototropisme.
BAB III
KESIMPULAN
ü Hormon kinetin dan BAP merupakan hormon yang
mempertahankan tanaman dari tingkat kelayuan. Hormon tersebut termasuk dengan
dengan hormon sitokinin yang mempertahankan tanaman dari penuaan.
ü Hormon growthone dan NAA murni termasuk hormon auksin.
Auksin banyak diaplikasikan pada tanaman terutama stek. Auksin berperan dalam
pemanjangan sel, pembentukan akar lateral dan akar adventif, dan sebagai
herbisida pada tananam.
DAFTAR PUSTAKA
http://fitriyani501.2011.blogspot.com/. Diakses 15 Januari 2013
http://boegissoppeng.blogspot.com/2011/08/kelebihan-dan-kekurangan-hormon-bagi.html. diakses 18 Januari 2013
http://anwarshare.blogspot.com/2012/06/acara-xii-pengaruh-kinetin-terhadap.html. diakses 18 Januari 2013
http://ika-akmala.blogspot.com/2011_12_01_archive.html. diakses 19 Januari 2013.
Hasibuan, A, dkk. 2008.
Pengaruh Aplikasi IBA dan Sitokinin Terhadap Pertumbuhan Stek Vanili. Primordia
Volume 4 Nomor 2.
Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking