Maandag 15 April 2013

Pengaruh ZPT Pada Bunga Potong



BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Konsep zat pengatur tumbuh diawali dengan konsep hormon tanaman. Hormon tanaman adalah senyawa-senyawa organik tanaman yang dalam konsentrasi yang rendahmempengaruhi proses-proses fisiologis. Proses-proses fisiologis ini terutamatentang proses pertumbuhan, differensiasi dan perkembangan tanaman. Proses-proseslain seperti pengenalan tanaman, pembukaan stomata, translokasi dan serapan haradipengaruhi oleh hormon tanaman. Hormon tanaman kadang-kadang juga disebutfitohormon, tetapi istilah ini lebih jarang digunakan.Istilah hormon ini berasal dari bahasa Gerika yang berarti pembawa pesankimiawi (Chemical messenger) yang mula-mula dipergunakan pada fisiologi hewan.Dengan berkembangnya pengetahuan biokimia dan dengan majunya industry kimia maka ditemukan banyak senyawa-senyawa yang mempunyai pengaruh fisiologisyang serupa dengan hormon tanaman. Senyawa-senyawa sintetik ini pada umumnyadikenal dengan nama zat pengatur tumbuh tanaman (ZPT = Plant Growth Regulator).
Tentang senyawa hormon tanaman dan zat pengatur tumbuh, Moore mencirikannyasebagai berikut :
1. Fitohormon atau hormon tanaman adalah senyawa organik bukan nutrisi yangaktif dalam jumlah kecil (< 1mM) yang disintesis pada bagian tertentu, padaumumnya ditranslokasikan kebagian lain tanaman dimana senyawa tersebut,menghasilkan suatu tanggapan secara biokimia, fisiologis dan morfologis.
2. Zat Pengatur Tumbuh adalah senyawa organik bukan nutrisi yang dalam konsentrasirendah (< 1 mM) mendorong, menghambat atau secara kualitatifmengubah pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
3. Inhibitor adalah senyawa organik yang menghambat pertumbuhan secara umumdan tidak ada selang konsentrasi yang dapat mendorong pertumbuhan.
Pertumbuhan, perkembangan, dan pergerakan tumbuhan dikendalikan beberapagolongan zat yang secara umum dikenal sebagai hormon tumbuhan atau fitohormon. Penggunaan istilah "hormon" sendiri menggunakan analogi fungsihormon pada hewan; dan, sebagaimana pada hewan, hormon juga dihasilkan dalamjumlah yang sangat sedikit di dalam sel. Beberapa ahli berkeberatan dengan istilah inikarena fungsi beberapa hormon tertentu tumbuhan (hormon endogen, dihasilkansendiri oleh individu yang bersangkutan) dapat diganti dengan pemberian zat-zattertentu dari luar, misalnya dengan penyemprotan (hormon eksogen, diberikan dariluar sistem individu). Mereka lebih suka menggunakan istilah zat pengatur tumbuh(bahasa Inggris plant growth regulator).
Hormon tumbuhan merupakan bagian dari proses regulasi genetik dan berfungsisebagai prekursor. Rangsangan lingkungan memicu terbentuknya hormon tumbuhan.Bila konsentrasi hormon telah mencapai tingkat tertentu, sejumlah gen yang semulatidak aktif akan mulai ekspresi. Dari sudut pandang evolusi, hormon tumbuhanmerupakan bagian dari proses adaptasi dan pertahanan diri tumbuh-tumbuhan untukmempertahankan kelangsungan hidup jenisnya.










B.     TEORI DASAR
Tumbuhan memproduksi ZPT dalam jumlah yang sangat sedikit, akan tetapi jumlah yang sedikit ini mampu mempengaruhi sel target. ZPT menstimulasi pertumbuhan dengan memberi isyarat kepada sel target untuk membelah atau memanjang, beberapa ZPT menghambat pertumbuhan dengan cara menghambat pembelahan atau pemanjangan sel. Sebagian besar molekul ZPT dapat mempengaruhi metabolisme dan perkembangan sel-sel tumbuhan. ZPT melakukan ini dengan cara mempengaruhi lintasan sinyal tranduksi pada sel target. Pada tumbuhan seperti halnya pada hewan, lintasan ini menyebabkan respon selular seperti mengekspresikan suatugen, menghambat atau mengaktivasi enzim, atau mengubah membran.
Pengaruh dari suatu ZPT bergantung pada spesies tumbuhan, situs aksi ZPT pada tumbuhan, tahap perkembangan tumbuhan dan konsentrasi ZPT. Satu ZPT tidakbekerja sendiri dalam mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan, pada umumnya keseimbangan konsentrasi dari beberapa ZPT-lah yang akan mengontrol pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan.
Suatu hormon, dapat berperan dengan mengubah ekspresi gen, dengan mempengaruhi aktivitas enzim yang ada, atau dengan mengubah sifat membran. Beberapa peranan ini, dapat mengalihkan metabolisme dan pekembangansel yang tanggap terhadap sejumlah kecil molekul hormon. Lintasan transduksi sinyal, memperjelas sinyal hormona dan meneruskannya ke respon sel spesifik.
Respon terhadap hormon, biasanya tidak begitu tergantung pada jumlah absolute hormon tersebut, akan tetapi tergantung pada konsentrasi relatifnya dibandingkan dengan hormon lainnya. Keseimbangan hormon, dapat mengontrol pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan daripada peran hormon secara mandiri. Interaksi ini akan menjadi muncul dalam penyelidikan tentang fungsi hormon.

1.      Auksin
Istilah auksin diberikan pada sekelompok senyawa kimia yang memiliki fungsiutama mendorong pemanjangan kuncup yang sedang berkembang. Beberapa auksin dihasilkan secara alami oleh tumbuhan, misalnya IAA (indoleacetic acid), PAA (Phenylacetic acid), 4-chloro IAA (4-chloroindole acetic acid) dan IBA (indolebutyricacid) dan beberapa lainnya merupakan auksin sintetik, misalnya NAA (napthaleneacetic acid), 2,4 D (2,4 dichlorophenoxyacetic acid) dan MCPA (2-methyl-4chlorophenoxyacetic acid).
 Istilah auksin juga digunakan untuk zat kimia yang meningkatkan perpanjangan koleoptil; walaupun demikian, auksin pada kenyataannya mempunyai fungsi ganda pada Monocotyledoneae maupun pada Dicotyledoneae. Auksin alami yang berada di dalam tumbuhan, adalah asam indol asetat (IAA=Indol Asetic Acid), akan tetapi, beberapa senyawa lainnya, termasuk beberapa sintetisnya, mempunyai aktivitas seperti auksin. Nama auksin digunakan khususnya terhadap IAA. Walaupun auksin merupakan hormon tumbuhan pertama yang ditemukan, namun masih banyak yang harus dipelajari tentang transduksi sinyal auksin dan tentang regulasi biosintesis auksin. Kenyataan sekarang mengemukakan bahwa auksin diproduksi dari asam amino triptopan di dalam ujung tajuk tumbuhan.
Pengaruh IAA terhadap pertumbuhan batang dan akar tanaman kacang kapri. Kecambah yang diberi perlakuan IAA menunjukkan pertambahan tinggi yang lebihbesar (kanan) dari tanaman kontrol (kurva hitam). Tempat sintesis utama auksin pada tanaman yaitu di daerah meristem apikal tunas ujung. IAA yang diproduksi di tunas ujung tersebut diangkut ke bagian bawah dan berfungsi mendorong pemanjangan sel batang. IAA mendorong pemanjangan sel batang hanya pada konsentrasi tertentu yaitu 0,9 g/l. Di atas konsentrasi tersebut IAA akan menghambat pemanjangan sel batang. Pengaruh menghambat ini kemungkinan terjadi karena konsentrasi IAA yang tinggi mengakibatkan tanaman mensintesis ZPT lain yaitu etilen yang memberikan pengaruh berlawanan dengan IAA. Berbeda dengan pertumbuhan batang, pada akar, konsentrasiIAA yang rendah (<10-5 g/l) memacu pemanjangan sel-sel akar, sedangkan konsentrasi IAA yang tinggi menghambat pemanjangan sel akar. Sehingga dapat disimpulkan :
1.    Pemberian ZPT yang sama tetapi dengan konsentrasi yang berbeda menimbulkan pengaruh yang berbeda pada satu sel target.
2.    Pemberian ZPT dengan konsentrasi tertentu dapat memberikan pengaruh yangberbeda pada sel-sel target yang berbeda.

2.      Sitokinin
Sitokinin merupakan  ZPT  yang  mendorong  pembelahan  (sitokinesis). Beberapa macam  sitokinin  merupakan  sitokinin  alami  (misal  :  kinetin,  zeatin)  dan  beberapa lainnya  merupakan  sitokinin  sintetik.  Sitokinin  alami  dihasilkan  pada  jaringan  yang tumbuh aktif  terutama pada akar,  embrio dan buah. Sitokinin yang diproduksi di akar selanjutnya diangkut oleh xilem menuju sel-sel target pada batang.
Ahli  biologi  tumbuhan  juga  menemukan bahwa sitokinin dapat meningkatkan pembelahan, pertumbuhan dan  perkembangan  kultur sel tanaman. Sitokinin juga menunda penuaan daun, bunga dan buah dengan cara mengontrol dengan baik proses kemunduran  yang  menyebabkan kematian sel-sel tanaman.  Penuaan pada daun melibatkan penguraian klorofil dan protein-protein, kemudian produk tersebut diangkut oleh floem ke jaringan meristem atau bagian lain dari tanaman yang membutuhkannya.
Sebagian besar tumbuhan memiliki pola pertumbuhan yang kompleks yaitu  tunaslateralnya tumbuh bersamaan dengan tunas terminalnya. Pola pertumbuhan  inimerupakan  hasil  interaksi antara auksin dan sitokinin dengan perbandingan tertentu.
Sitokinin diproduksi dari akar dandiangkut  ke  tajuk, sedangkan auksin dihasilkan dikuncup terminal kemudian diangkut ke bagian bawah tumbuhan. Auksin cenderung menghambat aktivitas meristem lateral yang letaknya berdekatan dengan meristem apikal sehingga membatasi pembentukan tunas-tunas cabang dan fenomena ini disebut dominasi  apikal. Kuncup aksilar yang terdapat di bagian bawah tajuk (daerah yang berdekatan  dengan akar)  biasanya  akan  tumbuh  memanjang  dibandingkan  dengan tunas aksilar  yang  terdapat dekat dengan kuncup  terminal. Hal ini menunjukkan  ratiositokinin terhadap auksin yang lebih tinggi pada bagian bawah tumbuhan.
Interaksi  antagonis  antara  auksin  dan  sitokinin  juga  merupakan  salah  satu  cara tumbuhan dalam mengatur derajat pertumbuhan akar dan tunas, misalnya  jumlah akar yang  banyak  akan  menghasilkan  sitokinin  dalam  jumlah  banyak.   Peningkatan konsentrasi  sitokinin  ini  akan  menyebabkan  sistem  tunas  membentuk  cabang  dalam jumlah yang  lebih banyak. Interaksi antagonis   ini umumnya juga terjadi di antara ZPT tumbuhan lainnya.

3.      Giberelin
Pada  tahun  1926,  ilmuwan  Jepang  (Eiichi  Kurosawa)  menemukan  bahwa cendawan  Gibberella  fujikuroi  mengeluarkan  senyawa  kimia  yang  menjadi  penyebab penyakit  tersebut. Senyawa kimia tersebut dinamakan Giberelin. Belakangan ini, para peneliti  menemukan  bahwa  giberelin  dihasilkan  secara  alami    oleh  tanaman  yang memiliki  fungsi  sebagai  ZPT.  Penyakit  rebah  kecambah  ini  akan  muncul  pada  saat tanaman padi terinfeksi oleh cendawan Gibberella fujikuroi yang menghasilkan senyawa giberelin dalam jumlah berlebihan.
Pada  saat  ini  dilaporkan  terdapat  lebih  dari  110 macam  senyawa  giberelin  yang biasanya disingkat sebagai GA. Setiap GA dikenali dengan angka yang terdapat padanya, misalnya GA6  . Giberelin  dapat diperoleh  dari biji  yang  belum dewasa  (terutama  pada tumbuhan dikotil), ujung akar dan tunas , daun muda dan cendawan. Sebagian besar GA yang diproduksi oleh  tumbuhan adalah dalam bentuk    inaktif, tampaknya memerlukan prekursor untuk menjadi bentuk aktif.
Pada spesies tumbuhan dijumpai kurang lebih 15 macam GA. Disamping  terdapat pada  tumbuhan ditemukan  juga pada alga,  lumut dan paku,  tetapi  tidak  pernah  dijumpai  pada  bakteri.  GA  ditransportasikan melalui  xilem dan floem, tidak seperti auksin pergerakannya bersifat tidak polar.
Salah satu zat kimia yang diperlukan dalam proses pemuliaan tanaman adalah GA3, sejak tahun 1950 orang sudah menaruh harapan besar terhadap GA terutama untuk meningkatkan produksi tanaman budidaya. GA sintesis yang biasanya tersedia secara komersial adalah GA3, GA7, GA13. Giberelin terdapat dalam berbagai organ: akar, batang, tunas, daun, tunas- tunas bunga, bintil akar, buah, dan jaringan kalus. (Heddy, 1986).
Asetil koA, yang berperan penting pada proses respirasi berfungsi sebagai prekursor pada  sintesis  GA. Kemampuannya  untuk meningkatkan  pertumbuhan  pada  tanaman lebih  kuat  dibandingkan  dengan  pengaruh  yang  ditimbulkan  oleh  auksin  apabila diberikan  secara  tunggal.  Namun  demikian  auksin  dalam  jumlah  yang  sangat  sedikit tetap dibutuhkan agar GA dapat memberikan efek yang maksimal. Sebagian  besar  tumbuhan  dikotil  dan  sebagian  kecil  tumbuhan  monokotil  akan tumbuh  cepat  jika  diberi  GA,  tetapi  tidak  demikian  halnya  pada  tumbuhan  konifer misalnya  pinus.  Jika  GA  diberikan  pada  tanaman  kubis  tinggi   tanamannya  bisa mencapai 2 m.Banyak tanaman yang secara genetik kerdil akan tumbuh normal setelah diberi  GA. Efek  giberelin  tidak  hanya  mendorong  perpanjangan  batang,  tetapi  juga terlibat  dalam  proses  regulasi  perkembangan  tumbuhan  seperti  halnya  auksin. Pada beberapa  tanaman  pemberian  GA  bisa  memacu  pembungaan  dan  mematahkan dormansi tunas-tunas serta biji.

4.      Asam absisat (ABA) 
Musim  dingin  atau  masa  kering merupakan  waktu  dimana  tanaman  beradaptasi menjadi  dorman  (penundaan  pertumbuhan).  Pada  saat  itu, ABA  yang  dihasilkan  oleh kuncup menghambat pembelahan sel pada jaringan meristem apikal dan pada cambium pembuluh  sehingga  menunda  pertumbuhan  primer  maupun  sekunder. ABA  juga memberi sinyal pada kuncup untuk membentuk sisik yang akan melindungi kuncup dari kondisi  lingkungan  yang  tidak menguntungkan. Dinamai  dengan  asam  absisat  karena diketahui bahwa ZPT  ini menyebabkan absisi/rontoknya daun  tumbuhan pada musimgugur. Nama tersebut  telah popular walaupun para peneliti  tidak pernah membuktikan kalau ABA terlibat dalam gugurnya daun.
Pada kehidupan suatu tumbuhan,merupakan hal yang menguntungkan untuk menunda/menghentikan  pertumbuhan  sementara. Dormansi  biji  sangat  penting terutama bagi  tumbuhan setahun di daerah gurun atau daerah semiarid, karena proses perkecambahan  dengan  suplai air terbatas akan mengakibatkan kematian. Sejumlah faktor  lingkungan diketahui mempengaruhi dormansi biji, tetapi pada banyak tanaman ABA tampaknya bertindak sebagai  penghambat  utama  perkecambahan.  Biji-biji tanaman  setahun  tetap dorman di  dalam  tanah  sampai air  hujan mencuci ABA keluar dari biji.


5.      Etylene
Buah-buahan mempunyai arti penting sebagi sumber vitamine, mineral, dan zat-zat  lain  dalam menunjang  kecukupan  gizi.  Buah-buahan  dapat  kita makan  baik  pada keadaan mentah maupun  setelah mencapai kematangannya. Sebagian besar buah  yang dimakan  adalah  buah  yang  telah  mencapai  tingkat  kematangannya. Untuk meningkatkan  hasil  buah  yang masak  baik  secara  kualias maupun  kuantitasnya dapat diusahakan  dengan  substansi  tertentu  antara  lain  dengan  zat  pengatur  pertumbuhan ethylene. Dengan  mengetahui  peranan  ethylene  dalam  pematangan  buah  kita  dapat menentukan penggunaannya dalam  industri pematangan  buah atau  bahkan mencegah produksi dan aktifitas ethyelen dalam usaha penyimpanan buah-buahan.
Ethylene mula-mula  diketahui  dalam  buah  yang matang  oleh  para pengangkut buah  tropica  selama pengapalan dari Yamaika ke Eropa pada  tahun  1934, pada pisang masak lanjut mengeluarkan gas yang juga dapat memacu pematangan buah yang belum masak. Sejak saat  itu ethylene (C2 H2) dipergunakan sebagai sarana pematangan buah dalam industri.
Ethylene  adalah  suatu  gas  yang  dapat  digolongkan  sebagai  zat   pengatur pertumbuhan  (phytohormon)  yang  aktif  dalam  pematangan.  Dapat   disebut  sebagai hormon  karena  telah  memenuhi  persyaratan  sebagai  hormon,  yaitu  dihasilkan  oleh tanaman,  besifat  mobil  dalam  jaringan  tanaman  dan  merupakan  senyawa  organik. Seperti  hormon  lainnya  ethylene  berpengaruh  pula  dalam  proses  pertumbuhan  dan perkembangan tanaman antara lain mematahkan dormansi umbi kentang, menginduksi pelepasan  daun  atau  leaf  abscission,  menginduksi  pembungaan  nenas. Denny  danMiller (1935) menemukan bahwa ethylene dalam buah, bunga, biji, daun dan akar.
Proses pematangan buah sering dihubungkan dengan rangkaian perubahan yang dapat dilihat meliputi warna, aroma, konsistensi dan flavour (rasa dan bau). Perpaduan sifat-sifat tersebut akan menyokong kemungkinan buah-buahan enak dimakan. Proses pematangan buah didahului dengan klimakterik (pada buah klimakterik). Klimakterik  dapat  didefinisikan  sebagai  suatu  periode mendadak  yang unik  bagi  buah dimana  selama  proses  terjadi  serangkaian  perubahan  biologis  yang  diawali  dengan proses sintesis ethylene.
Meningkatnya respirasi dipengaruhi oleh  jumlah ethylene yang dihasilkan,  meningkatnya  sintesis  protein  dan  RNA.  Proses  kl imakterik  pada  Apel diperkirakan karena adanya perubahan permeabilitas selnya yang menyebabkan enzym dan  susbrat  yang  dalam  keadaan  normal  terpisah,  akan  bergabung  dan  bereaksi  satu dengan lainnya. 
Perubahan  warna  dapat  terjadi  baik  oleh  proses-proses  perombakan  maupun proses sintetik, atau keduanya. Pada  jeruk manis perubahan warna ni disebabkan oleh karena perombakan khlorofil dan pembentukan zat warna karotenoid. Sedangkan pada pisang  warna  kuning  terjadi  karena  hilangnya  khlorofil  tanpa  adanya  atau  sedikitpembentukan  zat  karotenoid.  Sisntesis  likopen  dan  perombakan  khlorofil merupakan ciri perubahan warna pada buah tomat.
Menjadi lunaknya buah disebabkan oleh perombakan propektin yang tidak  larutmenjadi pektin yang larut, atau hidrolisis zat pati (seperti buah waluh) atau lemak (pada adpokat).  Perubahan  komponen-komponen  buah  ini  diatur  oleh  enzym-enzym  antara lain enzym hidroltik, poligalakturokinase, metil asetate, selullose.
Flavour  adalah  suatu  yang  halus  dan  rumit  yang  ditangkap  indera  yang merupakan kombinasi rasa (manis, asam, sepet), bau (zat-zat atsiri) dan terasanya pada lidah. Pematangan biasanya meningkatkan  jumlah gula-gula  sederhana  yang memberi rasa  manis,  penurunan  asam-asam  organik  dan  senyawa-senyawa  fenolik  yang mengurangi  rasa  sepet  dan masam,  dan  kenaikan  zat-zat  atsiri  yang memberi  flavour khas pada buah.
Proses  pematangan  juga  diatur  oleh  hormon  antara  lain  auksin,  sithokinine, gibberellin,  asam-asam  absisat  dan  ethylene. Auxin  berperanan  dalam  pembentukan ethylene,  tetapi  auxin  juga  menghambat  pematangan  buah.  Sithokinine  dapatmenghilangkan perombakan protein, gibberellin menghambat perombakan khlorofil dan menunda penimbunan karotenoid-karotenoid. Asam absisat menginduksi enzym penyusun/pembentuk karotenoid, dan ethylene dapat mempercepat pematangan.

6.      TRIAKONTANOL
Triakontanol  adalah  alkohol  rantai  panjang  yang  memeiliki  30  atom  karbon dalam molekulnya.   Triakontanol merupakan alkohol  lemak,  juga  lebih dikenal dengan Melissyl alkohol atau Myricyl alkohol. 
Kelompok  –OH,  ciri  dari  alkohol,  berada  pada  akhir  rantai.  Rumus  kimianyaC₃₀H₆₂O  dan  berat  molekulnya  adalah  438,42.  Dalam  suhu  kamar,  triakontanol berbentuk  solid  (padat) dan    titik  cairnya pada  suhu 85-90oC. Triakontanol    tidak  larut dalam air,  larut dalam pelarut organik yang berbeda, polaric dan non-polaric di alam triakontanol dapat ditemukan dalam kutikula dari berbgai jenis tanaman. 
Dalam bentuk ester, dimana triakontanol bereaksi dengan asam dan bahan padat duitemukan dalam lilin. 1-triakontanol yang ditemukan sekitar 1930-an, sampai hari ini juga  diproduksi  secara  sintetis,  menghasilkan  begitu  banyak  produk  murni  daripada ketika diekstrak dari bahan tanaman.  
Triakontanaol  merupakan  pemacu  pertumbuhan  (groeth  stimulant)  pada beberapa  jenis  tanaman,  sebagian  besar  ditemukan  pada  ros  yang  pemberiannya  meningkatkan jumlah basal breaks.

C.    TUJUAN PRAKTIKUM
ü  Mahasiswa dapat mengetahui peranan ZPT pada tanaman
ü  Mahasiswa dapat mengetahui macam-macam ZPT
ü  Mahasiswa dapat mengaplikasikan hormon growthone dan NAA murni dalam stek batang bunga potong.
ü  Mahasiswa dapat mengaplikasikan kinetin dan BAP dalam pengguguran bunga potong.

D.    ALAT DAN BAHAN
ü  Gelas
ü  Pipet
ü  Filter Pump
ü  Gelas ukur
ü  Gunting
ü  Mangkuk
ü  Spidol
ü  Bunga Potong Krisan
ü  Kinetin
ü  BAP
ü  Growthone
ü  NAA Murni






E.     CARA KERJA
1.    Uji Kinetin pada perendaman bunga potong Krisan.
a.    Mencampurkan air dengan larutan Kinetin ke dalam masing-masing gelas dengan jumlah dan konsentrasi yang berbeda untuk setiap gelas. Mengambil larutan Kinetin sebanyak 1 ml dengan menggunakan filter pump dan menuangkannya ke dalam gelas yang berisi air sebanyak 100 ml untuk memperoleh larutan dengan konsentrasi 1 ppm.
b.    Mengambil larutan Kinetin sebanyak 2 ml dan menuangkannya ke dalam gelas yang berisi air 100 ml untuk mendapatkan larutan dengan konsentrasi 2 ppm. Begitu seterusnya untuk langkah pencampurannya hingga perlakuan ke 5, yaitu 5 ppm.
c.    Menyiapkan pula gelas berisi air yang tidak mendapatkan campuran larutan Kinetin untuk dijadikan kontrol.
d.   Memberikan label pada setiap gelas menurut konsentrasi larutannya.
e.    Kemudian melakukan perendaman bunga Krisan pada setiap gelas yang berisi larutan Kinetin. Sebelum itu, bunga Krisan dipotong terlebih dahulu untuk menyesuaikan dengan ukuran gelas.
f.     Melakukan pengamatan pada masing-masing fisik bunga dari segi kesegaran dan warna batang, daun, dan bunga. Kemudian membandingkan hasil kenampakan antar perlakuan konsentrasi larutan Kinetin tersebut.

2.    Uji BAP pada perendaman bunga potong Krisan.
a.    Mencampurkan air dengan larutan BAP ke dalam masing-masing gelas dengan jumlah dan konsentrasi yang berbeda untuk setiap gelas. Mengambil larutan BAP sebanyak 1 ml dengan menggunakan filter pump dan menuangkannya ke dalam gelas yang berisi air sebanyak 100 ml untuk memperoleh larutan dengan konsentrasi 1 ppm.
b.    Mengambil larutan BAP sebanyak 2 ml dan menuangkannya ke dalam gelas yang berisi air 100 ml untuk mendapatkan larutan dengan konsentrasi 2 ppm. Begitu seterusnya untuk langkah pencampurannya hingga perlakuan ke 5, yaitu 5 ppm.
c.    Menyiapkan pula gelas berisi air yang tidak mendapatkan campuran larutan BAP untuk dijadikan kontrol.
d.   Memberikan label pada setiap gelas menurut konsentrasi larutannya.
e.    Kemudian melakukan perendaman bunga Krisan pada setiap gelas yang berisi larutan BAP. Sebelum itu, bunga Krisan dipotong terlebih dahulu untuk menyesuaikan dengan ukuran gelas.
f.     Melakukan pengamatan pada masing-masing fisik bunga dari segi kesegaran dan warna batang, daun, dan bunga. Kemudian membandingkan hasil kenampakan antar perlakuan konsentrasi larutan BAP tersebut.

3.    Uji Growtone pada stek bunga Krisan.
a.    Membuat pasta dari bubuk Growtone, yakni dengan mencampurkan secara sedikit demi sedikit air dengan 1,5 – 2 gram bubuk Growtone hingga memperoleh bentuk pasta.
b.    Mengoleskan permukaan pangkal batang bunga Krisan yang telah dipotong miring ke pasta Growtone dan kemudian menanamkannya ke talang yang telah berisi media tanam berupa pasir.
c.    Melakukan pengamatan pada masing-masing batang bunga mengenai kemunculan akar. Kemudian membandingkan hasil kenampakan tersebut dengan uji NAA.

4.    Uji NAA pada setek batang bunga Krisan.
a.    Membuat larutan NAA yang telah dicampurkan dengan 20 ml air.
b.    Mencelupkan bahan stek ke dalam larutan NAA beberapa menit, kemudian menancapkannya ke talang yang telah berisi media tanam berupa pasir.
c.    Melakukan pengamatan pada masing-masing batang bunga mengenai kemunculan akar. Kemudian membandingkan hasil kenampakan tersebut dengan uji Growtone.

F.     HASIL PENGAMATAN
Tabel pengamatan zat pengatur tumbuhan
v  Aplikasi hormon pada stek batang bunga potong

Hormon
Pengaruh Aplikasi Hormon
Growthone



NAA Murni
Hormon ini lebih mengutamakan akar terlebih dahulu kemudian akan memunculkan tunas.

Hormon ini lebih mengutamakan tunas kemudian akar.

v  Aplikasi kinetin dengan pencelupan bunga potong

Hormon
Aplikasi Hormon
Tingkat Kelayuan




Kinetin
Kontrol

1 ppm

2 ppm

3 ppm

4 ppm

5 ppm
Sangat layu

Sangat layu

Tidak layu

Agak layu

Agak layu

Agak layu


v  Aplikasi BAP dengan pencelupan bunga potong

Hormon
Aplikasi Hormon
Tingkat Kelayuan




BAP



Kontrol

1 ppm


2 ppm

3 ppm

4 ppm

5 ppm
Tidak layu

Paling pucuk terdapat kelayuan

Tangkai bawah lebih segar

Tangkai bawah lebih segar

Segar

Tangkai lebih hijau












BAB II
PEMBAHASAN
Hormon kinetin dan BAP merupakan hormon yang mempertahankan tanaman dari tingkat kelayuan. Hormon tersebut termasuk dengan dengan hormon sitokinin yang mempertahankan tanaman dari penuaan. Sitokinin diproduksi oleh tanaman itu sendiri di dalam jaringan yang sedang tumbuh aktif khususnya pada akar, embrio, dan buah. Sitokinin  yang  diproduksi  di   dalam  akar,  akan  sampai  ke jaringan yang dituju, dengan bergerak ke bagian atas tumbuhan di dalam cairan xylem.  Bekerja  bersama-sama  dengan auksin; sitokinin menstimulas pembelahan sel dan mempengaruhi lintasan diferensiasi.
Sitokinin,  dapat  menahan  penuaan  beberapa  organ  tumbuhan, dengan menghambat pemecahan protein, dengan menstimulasi RNA  dan sintesis protein, dan dengan memobilisasi nutrien dari jaringan di sekitarnya. 
Apabila  daun  yang dibuang  dari  suatu  tumbuhan  dicelupkan  ke dalam  larutan sitokinin, maka daun  itu akan  tetap hijau  lebih  lama daripada biasanya. Sitokinin  juga memperlambat deteorisasi daun pada tumbuhan utuh. Karena efek anti penuaan ini,  para floris  melakukan  penyemprotan  sitokinin  untuk menjaga supaya bunga potong tetap segar. 
Dalam pengaplikasian hormon kinetin pada bunga potong dapat dilihat pada tabel diatas bahwa untuk perlakuan kontrol, 1 ppm, 3 ppm, 4 ppm, dan 5 ppm mengalami kelayuan pada bunga dan daun bunga potong. Ini disebabkan karena tanaman tidak dapat mempertahankan kelayuannya, dilihat saja untuk aplikasi 1 ppm hormon ini sangat rendah sehingga tidak mampu memberikan pengaruh yang baik pada bunga potong. Sedangkan untuk 3 ppm, 4 ppm dan 5 ppm aplikasi perlakuan ini memiliki kadar hormone yang berlebihan sehingga berdampak negatif pada bunga potong dan tidak dapat mempertahankaannya. Pada pengaplikasian dosis tersebut bunga potong tidak mampu mempertahankan proses fisiologinya karena fotosintesisnya mengalami kerusakan.

Pengaplikasian dosis hormon kinetin yang cukup baik untuk diaplikasikan ke bunga potong adalah dengan dosis 2 ppm yang mampu mempertahankan dari tingkat kelayuan. Karena dengan dosis 2 ppm bunga potong masih dapat melakukan proses fisiologi terutama untuk proses fotosistesis pada bunga potong.
BAP (6-Benzyl Amino Purine) merupakan golongan sitokinin sintetik yang paling sering digunakan dalam perbanyakan tanaman secara kultur in vitro. Hal ini karena BAP mempunyai efektifitas yang cukup tinggi untuk  perbanyakan tunas, mudah didapat dan relatif lebih murah dibandingkan dengan kinetin (Krikorian, 1995; Yusnita, 2003).
            Dalam pengaplikasian hormon BAP yang bermaksud untuk menguji ketahanan bunga potong terhadap kelayuan atau penuaan dengan berbagai macam dosis yang digunakan yaitu; kontrol, 1 ppm, 2 ppm, 3 ppm, 4 ppm, 5 ppm. Untuk kontrol tidak mengalami kelayuan karena sifat polarnya lebih baik.
Dengan dosis 1 ppm bunga potong mengalami kelayuan pada bagian paling pucuk, karena pada bagian pucuk bunga potong mengalami dormansi atau penuaan/sensen sehingga proses fisiologi terhambat atau rusak akibat tangkai tidak dapat menyerap sitokinin. Untuk dosis 2 ppm, 3 ppm, dan 5 ppm pada tangkai bawah lebih segar dan berwarna hijau ini terjadi karena efek ZPT dimana diproduksi sitokinin akan digunakan lebih dekat untuk diberikan atau akan lebih terangsang pada bagian bawah yakni pada tangkai bunga potong. Dan pada bagian pucuk yakni bunga akan mengalami dormansi auksin atau penuaan/sensen. Sedangkan dosis 4 ppm menghasilkan bunga potong tetap segar.
Perbedaan kinetin dan BAP yang dilihat dari mahkota bunga potong adalah pada pengaplikasian BAP dengan dosis 4 ppm karena luas mahkota bunga yang lebih kecil, sehingga untuk laju respirasi oleh fisiologi tanaman akan mempengaruhi tingkat konsentrasi yang diaplikasikan. Sedangkan untuk kinetin dengan dosis 2 ppm karena luas daun mahkota bunga potong lebih luas permukaannya, maka dalam laju respirasi akan lebih tinggi dan mengalami kelayuan.
Menurut Hess (1975) sitokinin mempunyai kemampuan mendorong terjadinya pembelahan sel dan diferensiasi jaringan terutama dalam pembentukan pucuk. Senyawa nitrogen yang terkandung dalam sitokinin berperan untuk proses sintesis asam-asam amino dan protein secara optimal yang selanjutnya digunakan untuk proses pertumbuhan dan perkembangan eksplan dalam hal ini pembentukan daun (Gardner dkk., 1991).
Menurut Utami (1998) sitokinin dalam hal ini BAP berperan memacu terjadinya sintesis RNA dan protein pada berbagai jaringan yang selanjutnya dapat mendorong terjadinya pembelahan sel. Selain itu, BAP juga dapat memacu jaringan untuk menyerap air dari sekitarnya sehingga proses sintesis protein dan pembelahan sel dapat berjalan dengan baik. Chaerudin dkk. (1996) menambahkan BAP merupakan suatu zat pengatur tumbuh sintetik yang tidak mudah dirombak oleh sistem enzim dari tanaman sehingga dapat memacu induksi dan multiplikasi tunas.
Hormon growthone dan NAA murni termasuk hormon auksin. Auksin banyak diaplikasikan pada tanaman terutama stek. Auksin berperan dalam pemanjangan sel, pembentukan akar lateral dan akar adventif, dan sebagai herbisida pada tananam. Dalam praktikum pengaplikasian growthone merupakan zat perangsan tumbuhan yang sangat berguna untuk merangsang pertumbuhan akar terutama pada stek bunga potong lebih mengutamakan untuk membentuk akar terlebih dahulu untuk memperkuat sistem fisiologi tanaman, dan baru memunculkan tunas-tunas baru. Manfaat Penggunaan Growtone antara lain :
  • Mempercepat keluar Akar, sehingga stek/tanaman cepat tumbuh.
  • Memperbanyak dan memperpanjang akar membuat tanaman lebih kokoh, sehat  dan cepat besar.
  • Memperbanyak umbi pada tanaman singkong dan ketela rambat, dengan demikian hasil semakin meningkat.
  • Melindungi luka bekas potongan, sehingga stek/tanaman terhindar dari bakteri/cendawan pembusuk.
Sedangkan hormon NAA murni leih mengutamakan tunas untuk membantu pertumbuhan tanaman agar tetap hidup dan mampu melakukan proses fisiologi dengan baik, kemudian akan membentuk akar untuk memperkuat tanaman agar tidak roboh.
Auksin digunakan secara komersial di dalam  perbanyakan  vegetatif  tumbuhan melalui  stek. Suatu potongan daun, maupun potongan  batang,  yang  diberi  serbuk pengakaran  yang  mengandung  auksin, seringkali  menyebabkan  terbentuknya  akar adventif dekat permukaan potongan tadi.  Auksin juga terlibat di dalam pembentukan percabangan akar. Beberapa peneliti menemukan bahwa dalam mutan Arabidopsis, yang memperlihatkan perbanyakan akar lateral yang ekstrim  ternyata mengandung auksin dengan konsentrasi  17 kali  lipat dari konsentrasi yang normal. 
Meristem tunas apikal adalah tempat utama sintesis auksin. Pada saat auksin bergerak dar ujung tunas ke bawah ke daerah perpanjangan sel, maka hormon auksin mengstimulasi pertumbuhan sel, mungkin dengan mengikat  reseptor yang dibangun di dalam membran plasma. 
Auksin  akan  menstimulasi  pertumbuhan  hanya  pada  kisaran  konsentrasi tertentu; yaitu antara : 10-8 M sampai 10-4 M. Pada konsentrasi yang lebih tinggi; auksin akan menghambat perpanjangan sel, mungkin dengan menginduksi produksi etilen, yaitu  suatu  hormon  yang  pada   umumnya  berperan  sebagai  inhibitor pada perpanjangan sel. 
Berdasarkan  suatu  hipotesis  yang  disebut  hipotesis  pertumbuhan  asam (acid  growth  hypothesis),  pemompaan  proton  membran  plasma  memegang peranan  utama    dalam  respon  pertumbuhan sel terhadap auksin. Di daerah  perpanjangan tunas, auksin menstimulasi pemompaan proton membran plasma, dan dalam beberapa menit; auksin akan meningkatkan potensial membran (tekanan melewati membran)  dan menurunkan pH di dalam dinding sel.
Auksin  juga mengubah  ekspresi gen secara  cepat, yang menyebabkan sel dalam daerah perpanjangan,  memproduksi protein baru, dalam jangka waktu beberapa menit. Beberapa  protein, merupakan  faktor  transkripsi  yang  secara  menekan  ataupun mengaktifkan ekspresi gen lainnya. 
Untuk pertumbuhan  selanjutnya,  setelah dorongan awal  ini, sel akan membuat lagi  sitoplasma dan bahan dinding sel. Auksin juga menstimulasi respon pertumbuhan selanjutnya.
Kerja hormon auksin ini sinergis dengan hormon sitokinin dan hormon giberelin. Tumbuhan yang pada salah satu sisinya disinari oleh matahari maka pertumbuhannya akan lambat karena kerja auksin dihambat oleh matahari tetapi sisi tumbuhan yang tidak disinari oleh cahaya matahari pertumbuhannya sangat cepat karena kerja auksin tidak dihambat. Sehingga hal ini akan menyebabkan ujung tanaman tersebut cenderung mengikuti arah sinar matahari atau yang disebut dengan fototropisme.



















BAB III
KESIMPULAN
ü Hormon kinetin dan BAP merupakan hormon yang mempertahankan tanaman dari tingkat kelayuan. Hormon tersebut termasuk dengan dengan hormon sitokinin yang mempertahankan tanaman dari penuaan.
ü Hormon growthone dan NAA murni termasuk hormon auksin. Auksin banyak diaplikasikan pada tanaman terutama stek. Auksin berperan dalam pemanjangan sel, pembentukan akar lateral dan akar adventif, dan sebagai herbisida pada tananam.






















DAFTAR PUSTAKA

http://fitriyani501.2011.blogspot.com/. Diakses 15 Januari 2013

Hasibuan, A, dkk. 2008. Pengaruh Aplikasi IBA dan Sitokinin Terhadap Pertumbuhan Stek Vanili. Primordia Volume 4 Nomor 2.

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking